Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6


Seperti yang dilansir beberapa media sebelumnya Pada Sabtu, 9 Juni 2012, Anita menemui kepala sekolah. Anita tidak datang sendiri. Ia ditemani oleh bapaknya, Parwoto dan guru BK, Ibu Ni Made Wahyuni.

Pertemuan ini merupakan itikad baik dari Anita dan orang tuanya untuk meminta izin (secara baik-baik) kepada Kepala Sekolah agar Anita diperbolehkan mengenakan jilbab ketika bersekolah.

Ketika itu, Sunarta menjelaskan tentang peraturan sekolah. Dia mengaku tidak bisa mengubah peraturan tersebut seenaknya karena peraturan itu sudah dibuat dan disepakati secara bersama-sama.

“Peraturan sekolah tidak bisa diganggu oleh pihak luar (pemerintah). Ini sudah menjadi otonomi sekolah,"katanya. Terkait keinginan Anita untuk mengenakan jilbab, Anita disarankan untuk bersekolah di sekolah lain saja jika ingin tetap mengenakan jilbabnya.

Sunarta juga mengatakan tidak melarang namun tidak juga memberi izin Anita untuk berjilbab di sekolah. Anita mejelaskan tentang perintah menutup aurat dalam Agama Islam. Kepala sekolah sempat memuji Anita karena di usianya yang masih muda, Anita sudah memiliki keimanan yang kuat.

Meski begitu, Sunarta menegaskan, tidak ingin murid di SMAN 2 Denpasar tidak seragam karena ada satu yang berjilbab.

Lalu Anita juga menceritakan tentang fakta kakak kelasnya dulu, Ria Putri Lestari yang bisa menggunakan jilbab di sekolah itu. Sunarta malah bilang kalau “Saat itu peraturan sekolah tidak ditegakkan dengan baik”.

Kepala sekolah juga menjelaskan, “Ini kan bukan sekolah Islam, bukan juga Hindu saja, jadi lebih baik jangan ada yang beda-beda (simbol-simbol agama) seperti itu, biar seragam saja”.

Kecewa dengan keputusan pihak sekolah, Anita pun menangis. Perasaan kesal, sedih dan kecewa tercampur di sana. Ia pun sangat kaget ketika Kepala Sekolah mengatakan bahwa dia (Anita) itu tidak dewasa. Selama dialog ini berlangsung, di luar ruangan ada Bapak Rahmat Bayu (sekretaris/asisten Kepsek) yang sedang menunggu/mengawal Kepsek.

Anita lantas berkonsultasi ke kantor LBH FKKPI. Seorang staf LBH menyarankan agar Anita mengenakan jilbabnya ke sekolah untuk mengetahui respons para guru dan kepala sekolah. Pada 21 November 2012, Anita nekad pergi ke sekolah dengan jilbabnya.

Hari itu, mata pelajaran jam pertama adalah pelajaran Bahasa Bali. Ternyata, guru Bahasa Bali hari ini tidak hadir sehingga menyebabkan proses belajar mengajar tidak efektif alias jam kosong. Tiba-tiba Kepala Sekolah masuk ke kelas Anita untuk memberi nasihat kepada seluruh murid dan bertanya kepada Anita

“Kok bajunya seperti itu?”, Anita diam saja tidak menjawab, lalu Kepala Sekolah Drs Ketut Sunarta menyuruh Anita datang ke ruangan Kepala Sekolah, seperti tertera pada hasil investigasi tim advokasi yang diterima RoL.

Pada pertemuan kedua ini Kepala Sekolah menegaskan “Kalau pakai jilbab kelihatan atau tidak logo OSIS SMA-nya? Kelihatan atau tidak emblem SMAN 2 nya?”

Kepala sekolah pun menyarankan untuk pindah sekolah saja kalau Anita tetap ingin berjilbab. Anita diminta untuk bertahan saja (tidak memakai jilbab) kalau tetap ingin bersekolah di SMAN 2. Anita menjawab “Kan bisa dinaikin sedikit Pak, kerudungnya jadi masih bisa kelihatan logonya”. Kepala Sekolah tetap tidak mengizinkan.

Lalu tiba-tiba Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan Drs. Ida Bagus Sueta Manuaba, M.Pd., masuk ruangan, beliau menanyakan keperluan Anita di ruang Kepsek. Bincang-bincang kecil terjadi antara Kepsek dan Wakasek.

Berkali-kali Anita disarankan untuk pindah sekolah saja kalau memang tetap ingin memakai jilbab dan diminta untuk segera memutuskan pilihan.

Tepat 08.30 waktu Denpasar, Anita minta undur diri dari perbincangan itu karena ada pelajaran selanjutnya. Ketika Anita masuk kelas lagi, Anita mendapatkan respon yang biasa-biasa saja dari para guru yang mengajar di kelasnya hingga pelajaran usai.

Selain itu, pada tanggal 8 Desember 2012, sekolah menyelenggarakan kegiatan lomba-lomba. Dalam kesempatan itu, Anita mengenakan jilbabnya ke sekolah. Seorang guru yang bernama Ni Putu SukaPutrini, S. Pd., pun menegur Anita. Beliau mengatakan “Pindah sekolah saja kalau mau memakai jilbab! Kasihan peraturan sekolah gak ditaati”.

Pelarangan Pemakaian Jilbab, Dikecam berbagai Pihak.

Wakil Ketua DPR, Priyo Budi Santoso tidak habis pikir dengan aturan SMAN 2 Bali yang melarang siswinya berjilbab. Menurut Priyo, aturan seperti itu tidak bisa dibenarkan secara konstitusi.

"Aturan yang aneh dan tidak masuk akal di tengah upaya kita menghormati hak asasi semakin besar," kata Priyo ketika dihubungi Republika, Kamis (9/1).

Ia mengatakan, jilbab merupakan hak dasar manusia yang dijamin konstitusi. Dia mengatakan, SMAN 2 Bali telah salah kaprah dengan membuat aturan sekolah yang melarang sisiwi berjilbab. "Kalau ada sekolah buat aturan begitu salah kaprah dan salah besar," ujarnya.

Ketua Presidium Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia tersebut meminta SMAN 2 Bali mengoreksi aturan yang berlaku di internal mereka. Sebab melarang siswi berjilbab merupakan simbol keterbelekangan berpikir. "Zaman seperti ini kok masih ada yang pikirannya terbelakang," katanya.

Larangan siswi mengenakan jilbab juga dianggap akan berdampak negatif terhadap semangat bertoleransi di kalangan siswa. "Kalau begini toleransi di kalangan siswa kita tergerus. Ini berbahaya bagi kerukunan beragama," ujarnya.

Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, , Musliar Kasim menyampaikan himbauannya terkait kasus tersebut. "Tidak boleh ada larangan berjilbab di sekolah manapun!" Ungkapnya ketika dihubungi Republika, Senin (6/1).

Musliar melanjutkan, jika sekolah yang bersangkutan tidak segera menyelesaikan problem tersebut, Kemendikbud akan segera mengambil tindakan. "Kalau tidak mau mengikuti arahan Kemendikbud, sekolah tersebut akan kami beri sanksi," tandasnya.

Dan kami sebelumnya juga sudah memberitakan  Surat Terbuka untuk Kepala Sekolah SMAN 2 Denpasar Bali



Tanggapan Kepala Sekolah SMAN 2 Denpasar


Kepala Sekolah SMA 2 Denpasar, Drs.  Ketut Sunarta akhirnya memberikan penjelasannya yang bijaksana kepada Tim Advokasi Pembelaan Hak Pelajar Muslim Bali.
Dalam pertemuan lebih satu jam dengan suasana keakraban, kepada Tim Advokasi, Ketut menyampaikan ada kesimpang-siuran soal pelarangan jilbab di sekolahnya. Ia juga mengaku, jika ada pelarangan soal jilbab, diminta agar segera melapor padanya.
“Jika ada guru yang pernah menegur murid karena ingin berjilbab maka laporkan kepada saya, karena itu adalah tindakan yang tidak dibenarkan,” tegas Ketut Sunarta, ditirukan Ketua Tim Advokasi Pembelaan Hak Pelajar Muslim Bali, Helmi al Djufri dalam rilisnya pada hidayatullah.com,Kamis (16/01/2014).
Lebih lanjut, guru yang sudah mengabdi sejak tahun 1980 ini juga menyampaikan lembaga sekolah adalah lembaga baik dan tidak ada alasan melarang hal yang baik.
“Ini kan lembaga pendidikan, tempatnya belajar yang baik-baik, dan keinginan siswi untuk berjilbab itu kan positif, maka tidak ada alasan sekolah melarangnya, itu harus diapresiasi,” ujarnya.
Peryataan Ketut ini merupakan perkembangan positif terbaru setelah sebelumnya sempat melarang dengan alasan kesepakatan peraturan sekolah. Sementara itu, nomor telpon Ketut yang dihubungi hidayatullah.com tidak diangkat.
Bisa Berjilbab
Seperti diketahui, sejak Hari Sabtu (11/01/2014), pasca pertemuannya dengan pihak Kepala Sekolah SMA 2 Denpasar,  Anita Whardhani, siswi SMA Negeri 2 Denpasar Bali yang hampir 3 tahun lamanya memperjuangkan hak berjilbab kini ia boleh bebas menggunakan penutup aurat bagi Muslimah itu di sekolahnya.
“Saya bertemu dengan kepala sekolah dengan berjilab lengkap. Beliau bilang, ‘kalau sudah seperti ini yaa sudah, itu bahasa saya,“ ungkap Anita  pada hidayatullah.com.*

About admin

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments: