Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

Muhammadiyah melalui Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersepakat untuk terus mendampingi masyarakat asli Papua sampai pola konsumtif yang selama ini melekat, menjadi pola produktif untuk masa depan yang lebih baik.
Demikian disampaikan sekretaris MPM PP Muhammadiyah Bachtiar Dwi Kurniawan di sela pendampingan masyarakat suku Kokoda di desa Warmon Kokoda, Aimas, Kabupaten Sorong, Papua Barat, Selasa (15/1). Bachtiar menambahkan, pendampingan suku Kokoda tersebut sebenarnya telah dilakukan sejak tengah tahun lalu dan telah mengirim tim ahli MPM selama empat kali pertemuan, dan terdapat berbagai permasalahan tetapi MPM tetap berkomitmen untuk terus mendampingi masyarakat Kokoda. “Mereka (masyarakat Kokoda) ini belum mempunyai tradisi untuk berproduksi, karena selama ini dengan masuk hutan mereka telah mendapatkan apa yang diinginkan, di sini kita berusaha untuk melalukan pelatihan pertanian dan peternakan agar mereka tidak lagi berburu di hutan. Karena bagaimanapun sumberdaya hutan suatu saat akan habis,” jelasnya.
Lebih lanjut menurut Bachtiar, meski sulit terutama dalam mengubah pola dan karakter masyarakat, tetapi MPM terus bertekad untuk mendampingi. “Banyak masyarakat sekitar yang memandang pesimis usaha MPM, bahkan ada yang mengatakan sia-sia. Tetapi kita berkeyakinan kalau kita berusaha pasti ada jalan, karena kalau bukan kita siapa lagi yang mau untuk berbuat,” tegasnya. Bachtiar mengungkapkan saat ini masyarakat Kokoda yang didampingi MPM telah melakukan usaha yang luar biasa dengan memulai usaha pertaniannya. “Alhamdulillah kita punya Syamsuddin kader Muhammadiyah yang merupakan suku asli Papua tersebut dan sekaligus orang yang disegani, dialah yang menjadi motor penggerak masyarakat Kokoda untuk selalu berusaha dalam bercocok tanam dan beternak,” ungkapnya.
Sementara itu menurut tim Ahli MPM di bidang Pertanian Indardi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, masyarakat Kokoda telah menunjukkan kemajuan dalam hal pertanian dan peternakan mereka telah memulai untuk membuat bedenguntuk media bercocok tanam, termasuk telah memulai menyemai benih. “Hal (usaha cocok tanam) tersebut mungkin terlihat biasa, tetapi bagi masyarakat Kokoda yang belum pernah bersentuhan dengan pertanian, tentu saja hal ini menjadi luar biasa,” ungkapnya.
MPM Muhammadiyah mengirimkan tim Keempat ke Sorong Papua Barat pada tanggal 10 hingga 15 Januari 2014, dengan tujuan pelatihan pertanian, peternakan, dan pengorganisasian produksi rumah tangga. Bambang Suwigno salah tim ahli MPM yang mendampingi Ibu-Ibu rumah tangga masyarakat Kokoda mengungkapkan, para Ibu Rumah Tangga sebenarnya mempunyai potensi besar untuk melakukan produksi yang menghasilkan, karena mereka telah mempunyai beberapa produk hasil kerajinan tangan termasuk makanan seperti roti sagu. “Saya cukup optimis para Ibu Rumah Tangga ini mampu membuktikan diri melakukan produksi dan menghasilkan sesuatu bagi keluarganya,” jelasnya.
Dalam program pemberdayaan di Kokoda, MPM juga dibantu oleh Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan) STKIP Muhammadiyah Sorong yang telah terlebih dahulu memulai aktivitas pemberdayaan dengan membangun Sekolah dan Masjid di wilayah Suku Kokoda. “Harapan kita, Muhammadiyah baik melalui MPM, STKIP Muhammadiyah Sorong, LAZISMU, dan stakeholder Muhammadiyah lainnya dapat melakukan secara bersama-sama, karena tugas pemberdayaan adalah tugas kita semua sesuai dengan prinsip Al Ma’un,” pungkas Bachtiar. (mac/Muhammadiyah.or.id)

About admin

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments: