Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

Siapa yang tidak tahu nama tokoh ini, semua orang Indonesia tahu nama besar Gajah Mada sang Mahapatih Majapahit, orang pertama yang mempersatukan Nusantara. Tapi sampai saat ini, setelah 7 abad sejak kebesaran namanya berkibar di seantero negeri.

Bukan saja tentang asal-usul dan kematiannya, tentang strategi politik menuju posisi puncak di Majapahit serta strategi perangnya menguasai Nusantara juga masih menyimpan banyak misteri yang tak terjawab hingga kini,bahkan tentang wajahnya juga menjadi salah satu misteri Penemuan terakota pipi tembeb di Trowulan yang disebut-sebut sebagai perwujudan wajah Gajah Mada sampai saat ini juga belum terbukti. Rupa Gajah Mada yang kita kenal sekarang ini juga menjadi polemik dan kontroversi karena sebagian orang menyebut bahwa penggambaran rupa Gajah Mada itu hanya rekaan Moh.Yamin pengarang buku “Gajah Mada Pahlawan Nusantara”. Lihat saja wajah Gajah Mada dan bandingkan dengan wajah Moh.Yamin, sangat mirip. Jadi kemungkinan besar rupa itu hanya rekaan Moh.Yamin yang menjelmakan wajahnya sebagai Gajah Mada. (kompasiana)


Pada tulisan ini tidak membahas tentang wajahnya yang masih misteri tetapi membahas tentang Keislaman Patih Majapahit yaitu :Gajah Mada. dan Tulisan yang akan kami sampaikan merupakan beberapa Tulisan Budayawan dan Arkeolog yang melakukan penelitian terkait hal ini. dan InsyaAllah akan kami sampaikan beberapa bagian
 pada bagian awal, kami akan sampaikan tulisan dari Drs Mat Rais yang berjudul : 


Budayawan Temukan Situs Kerabat Gajah Mada

Oleh :Drs. Mat Rais

Budayawan Nusantara kelahiran Lamongan, Viddy Ad Daery, yang telah banyak meneliti mengenai Folklor Gajah Mada “versi” Lamongan, dan telah mempresentasikan temuan-temuan itu di beberapa seminar Internasional di Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei, kini telah menemukan “bukti-bukti baru folklore Modo” berupa situs-situs yang selama ini belum pernah diungkap.

Viddy yang baru-baru ini menjelajahi kembali “wilayah Modo” Lamongan, bersama Sufyan Al-Jawi, arkeolog dari Numismatik Indonesia, menemukan beberapa “situs yang mengejutkan” yang tentunya akan memengaruhi penulisan sejarah Indonesia. “Teori Pak Viddy yang saya baca di www.kompas.com ( mengenai folklore Modo yang menyatakan bahwa Gajah Mada lahir di Modo ) tampaknya akan mendapat dukungan bukti-bukti kuat di lapangan, terutama dari segi arkeologi!” tandas Sufyan Al-Jawi.

Temuan itu, pertama-tama dijumpai di Modo sendiri, antara lain ialah “makam kerabat Gajah Mada” yang diakui kebenarannya oleh Pak Sukardi yang mengaku “masih kerabat Gajah Mada”. Pria yang berwajah dan berpostur Mongoloid  “mirip citra Gajah Mada” itu, menunjuk sekelompok makam kuno yang terdapat di sudut utara kompleks makam Medalem, Modo, Lamongan.

“Menurut cerita kakek-nenek saya, itu makam kerabat dekat Gajah Mada dan para pengikutnya”, tutur Pak Sukardi menunjuk sekelompok makam tua yang terdiri dari empat makam.

Empat makam itu Nampak “lain”, karena tidak nampak sebagai makam-makam “modern” yang lain yang rata-rata diurug tinggi lalu diplester dengan ubin. Empat makam tua itu hanya dikelilingi batu-batu kuno, dan nisan “kuno”nya sudah banyak yang patah, Nampak tidak terurus.

“Nisan makam ini ada yang masih tersisa dan tampak kekunoannya, yaitu berjenis nisan dari peradaban abad ke 15, sebelum munculnya zaman Walisongo”, ujar Sufyan Al-Jawi. “Dicirikan dengan lambang mahkota bunga, dan itu merupakan perpaduan kebudayaan Hindu dan Islam”.

Lebih lanjut Sufyan Al-Jawi menyimpulkan, bahwa “kerabat Gajah Mada” ternyata sudah menganut kepercayaan islam, dengan bukti makamnya menghadap ke arah kiblat, dan nisannya bercitra Islam abad ke 15.

Viddy menyatakan, meskipun makam yang ditemukan bukan atau belum mengarah ke Gajah Mada itu sendiri, namun sudah merupakan bukti kuat bahwa Gajah Mada sangat terkait erat dengan desa Modo, yang pada zaman Majapahit merupakan ibukota Kerajaan Pamotan atau Kahuripan, salah satu vassal Majapahit di sebelah utara yang pernah diperintah oleh Tribhuana Tunggadewi dan Hayam Wuruk ketika dipersiapkan untuk menerima tahta Majapahit.

Rombongan Viddy dan Sufyan Al-Jawi seterusnya mengunjungi situs desa Garang, yang dalam folklore Modo disebut sebagai desa perguruan silat Garangan Putih tempat Gajah Mada muda mempelajari ilmu kanuragan. Kemudian dilanjutkan ke makam Ibunda Gajah Mada alias Dewi Andongsari yang berada di bukit Gunung Ratu, Ngimbang dekat Modo.

Selanjutnya tim ke dusun Badander, Kabuh, Jombang di dekat Sungai Brantas, yang ditengarai sebagai tempat Gajah Mada menyelamatkan Prabu Jayanegara dari kejaran pasukan pemberontak Ra Kuti. Letak Badander dengan Modo, Lamongan, relatif tidak terlalu jauh.

Menggugat Sejarah

Seorang penduduk Badander ( Pak Pari ) yang diwawancarai oleh tim Viddy-Sufyan, mempertanyakan, “Kenapa buku-buku sejarah di sekolah tidak menulis yang benar? Kenapa ditulis bahwa tempat penyelamatan Prabu Jayanegara di Dander Bojonegoro? Bagi kami terasa aneh! Sebab menurut cerita leluhur-leluhur kami, desa kamilah, yaitu Badander, sebagai tempat penyelamatan Prabu Jayanegara. Menurut cerita leluhur kami, Gajah Mada menitipkan Prabu Jayanegara kepada Buyut Badander atau kepala desa kami saat itu.”

Tim menyusuri bukti-bukti yang dikemukakan oleh Pak Pari dengan mengukur jarak antara pusat Kerajaan Majapahit dengan Badander, Kabuh, dan menyimpulkan bahwa secara logika, letak Badander Kabuh lebih masuk akal menjadi tempat penyelamatan Jayanegara, daripada Dander Bojonegoro yang letaknya terlalu jauh. “Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya tata letak pusat pemerintahan desa yang sekarang adalah bekas lokasi pesanggrahan Buyut Badander seperti yang diceritakan oleh masyarakat setempat, berupa Pager Banon!” simpul Sufyan Al-Jawi.

Menurut Viddy Ad Daery, dalam babad-babad kuno memang ditulis bahwa lokasi desa tempat penyelamatan Prabu Jayanegara oleh Gajah Mada adalah di Badander, bukan Dander. “Dan itu berarti lebih mengarah Badander Kabuh. Bukan Dander Bojonegoro!” kata budayawan yang kini sedang menggarap tesis Ph D itu.

Menurut Sufyan Al-Jawi penelitian ini bertujuan untuk pembuatan buku demi meluruskan sejarah Gajah Mada yang selama ini simpang siur. Sedang bagi Viddy sendiri, di samping untuk memperkuat teorinya, juga untuk bahan penulisan serial novelnya “Pendekar Sendang Drajat Misteri Gajah Mada Islam”[sumber :oase]

Bersambung

About admin

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments: