Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

Oleh :Geturidis Laka

Diaspora serangan politik dalam Pilkada DKI Jakarta kini mengerucut pada pusaran isu yang menegangkan urat-saraf warga Jakarta. Beberapa minggu ini, isu suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) menghiasi layar kaca televisi, kepala berita (headline) media cetak hingga desas-desus publik di setiap ruang sosial kota Jakarta. Namun di balik itu, kita sulit menyibak, siapa sesungguhnya yang sedang mengipas-ngipas isu ini ke publik  dalam rangka memanen keuntungan instan dalam pemilukada DKI. Siapa—?
Dari komposisi kandidat Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI yang ada, publik dan media seakan terjebak pada persepsi dan opini umum yang didesain politik media, bahwa isu SARA ini pasti dimainkan oleh kubu Foke-Nara. Karena isu SARA paling tepat dan strategis ditembakkan pada pasangan Jokowi-Ahok. Secara umum kita menyaksikan media engginering sedang memperlihatkan pasangan Foke-Nara sebagai pihak yang tertuduh menyebar isu SARA.
Asumsi umumnya adalah, kedua pasangan ini (Jokowi-Ahok) memiliki beberapa kemungkinan untuk diserang, bahkan bisa dilumpuhkan geliatnya dalam pemilukada DKI dengan serangan yang berbau rasial dan agama. Dengan nalar bahwa Ahok merupakan sosok kontroversial yang kini ramai dilihat publik secara diametral sebagai sasaran tembakan isu-isu rasial dan agama.
Jika kita jejaki asumsi publik itu, maka Ahok merupakan sasaran dari suatu pelembagaan isu SARA yang paling strategis. Dugaannya Ia (Ahok) bisa menjadi korban sekaligus pelakunya. Karena pasangan Jokowi-Ahok lagi-lagi memetik keuntungan besar dibalik isu SARA ini.
Dengan demikian, asumsi umumnya bisa dibalik, bahwa hal ini bisa  dilakukan siapa saja, termasuk pasangan Jokowi-Ahok. Olehnya itu, bisa mungkin  bila Ahok saat ini turut melembagakan dirinya dalam pusaran isu SARA, dengan tujuan, semakin ia terpojok dan termarginalisasi, maka hal tersebut akan memantik dan memeras rasa iba warga Jakarta pada Ahok. Teorinya, bisa jadi Jokowi-Ahok saat ini  sedang menyedot energi kemenangan di balik isu-isu SARA, karena hal ini sangat menguntungkan mereka sebagai pihak yang terus-menerus diintimidasi.
Dalam desas-desus publik yang mendidih itu,  muncul pertanyaan menarik, bahwa mungkinkah Ahok sedang mengeksploitasi dirinya sendiri dengan isu SARA? Dengan begitu, logika mayoritas publik secara masif menuduh ke Foke-Nara sebagai biang utama penyebar isu SARA sebagaimana yang diasumsikan publik dan media?
Pertanyaan seperti ini perlu dimunculkan ke publik, karena dalam hemat kita, pasangan Foke-Nara tentu memiliki perhitungan dua kali lipat untuk melakukan propaganda rasial dan agama, karena hal ini hanya menjadi bumerang bagi keduanya.
Logisnya, tanpa mereka (Foke-Nara) menyebar isu-isu SARA pun asumsi publik pasti dialamatkan ke Foke-Nara, karena dalam dugaan publik, merekalah yang paling mungkin melakukan hal tersebut. Dengan argumen bahwa rivalnya (Jokowi-Ahok) memiliki potensi untuk diserang dari sisi isu rasial dan agama.
Dengan demikian, batasan yang perlu kita buat adalah, pasangan Foke-Nara  tak mungkin mau bunuh diri  dengan melakukan propaganda rasial dan agama terhadap rivalnya dalam pemilukada DKI Jakarta, karena kampanye berbau SARA hanya menjadi bumerang. Beberapa kali Foke telah membantah keterlibatan mereka dalam isu-isu SARA.
Jokowi-Ahok dan Isu SARA
Bila kita selami lebih dalam, lagi-lagi isu SARA ini memberikan keuntungan besar pada pasangan Jokowi-Ahok. Bahkan diam-diam, Jokowi-Ahok memetik keuntungan politik besar dari isu-isu SARA. Baik yang muncul ke khalayak ataupun melalui rekayasa  dan propaganda diam-diam.
Lihatlah hasil survey exit poll LSI pada 11 Juli 2012, etnis Cina di Jakarta 100% memilih Jokowi Ahok. Tapi ketika ditanya program apa saja yang ditawarkan Jokowi-Ahok, pemilih dari etnis Chinese ini rata-rata tak tahu program apa yang ditawarkan pasangan Cagub-Cawagub yang mereka pilih di putaran pertama Pilkada DKI.
Dari hasil survey exit poll ini, kita bisa mengendus, bahwa etnis Cina yang  memilih Jokowi-Ahok karena terkait relasi subjektif Ahok sebagai sesama etnis Tionghoa. Hal ini sulit ditampik. Ahok diam-diam membangun piramida etnisitas, dan memanen sentimentil warga Jakarta sebagai kelompok minoritas yang dizolimi dalam pilkada DKI Jakarta.
Demikian pun sebaran suara umat Kristen dan Katolik terhadap pasangan Jokowi-Ahok berdasarkan survey exit poll dimana Kristen 77,17 dan Katolik 76,9%. Sementara pemilih Kristen dan Katolik memilih Foke-Nara hanya 17,1% dan 15,4%. Berikut hasil Exit Poll LSI pada 11 Juli 2012 :
1344225564667098270
Basis dukungan etnis (Sumber : LSI)
Basis dukungan Agama
1344225645541467189
Basis dukungan Agama (Sumber : LSI)
Hasil exit poll ini merupakan “signifer dengan sebuah tinanda”, bahwa ada usaha yang diam-diam mendorong soliditas etnis dan agama terbentuk. Ummat Kristen misalnya, mereka memilih Jokowi-Ahok karena faktor jastifikasi keyakinan (aqidah) Ahok. Hal ini tak mungkin terjadi, bila tanpa kerja-kerja primordial dibaliknya. Singkatnya, terlepas dari benar tidaknya pasangan Foke-Nara melakukan kampanye berbau SARA, namun sadar atau pun tidak, pasangan Jokowi-Ahok pun diam-diam melakukan propaganda serupa dalam bentuk yang berbeda.
Jika kita lihat hasil exit poll LSI di atas,  maka sebaran pemilih dari segi etnis dan agama lebih besar ke pasangan Jokowi-Ahok bila dibandingkan dengan Foke-Nara. Dengan demikian, pertanyaan yang patut kita munculkan adalah, apakah pasangan Jokowi-Ahok tidak melakukan propaganda etnis dan agama dalam pilkada DKI Jakarta?
Pertanyaan ini hanya bisa dijawab dengan tenaga yang cukup, karena lagi-lagi Foke_Nara tengah menghadapi badai besar media engginering. Jawaban yang paling probable adalah, Jokowi_Ahok tak tinggal diam, mereka tau, keuntungan apa yang bisa mereka petik dibalik isu-isu SARA[sumber]

About admin

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments: