Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

Pasangan Jokowi-Ahok dan pasangan Foke-Nara akan berlaga dalam Pilkada Pemilihan Gubernur DKI jakarta Putaran Kedua yang rencananya akan dilaksanakan tanggal 21 September 2012.
Maka Kami mencoba menyampaikan Profil dari Calon Gubernur dan wakil Gubernur  ,semoga apa yang kami sampaikan ini bermanfaat bagi Penduduk jakarta yang ingin menggunakan hak pilihnya.
dan dalam penyampaikan profil para kandidat Calon Gubernur dan Wakil Gubernur tersebut Kami berusaha untuk bersikap senetral mungkin

Pertama,Biografi Calon Gubernur :Fauzi Bowo Vs Jokowi

Biografi Fauzi Bowo

Nama Lengkap: Dr.-Ing. H. Fauzi Bowo
Nama Populer: Fauzi Bowo (Foke)
Tanggal Lahir: 10 April 1948
Tempat Lahir: Jakarta Indonesia
Agama: Islam
Profesi: Politikus
Jabatan: Gubernur DKI Jakarta ke-13 (2007-2012)

Keluarga Bapak Fauzi Bowo
Kakek: KH Abdul Manaf
Nama Ayah: Djohari Bowo
Nama Ibu: Nuraini binti Abdul Manaf
Istri: Hj. Sri Hartati
Anak: Humar Ambiya (Tanggal lahir: 20 Juli 1976, Esti Amanda (Tanggal lahir: 5 April 1979) dan Dyah Namira (Tanggal lahir: 1 Februari 1983).

Riwayat Pendidikan
SD St. Bellarminus, SMP Kolese Kanisius, SMA Kolese Kanisius,  Sepadya 1987, Sespanas 1989, Lemhannas KSA VIII/2000, Teknik Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Arsitektur bidang Perencanaan Kota dan Wilayah Technische Universität Braunschweig Jerman, Doktor-Ingenieur Technische Universität Kaiserslautern.

Dr.-Ing. H. Fauzi Bowo lahir di Kota Jakarta pada tanggal 10 April 1948. Beliau merupakan Gubernur Provinsi DKI Jakarta periode 2007 - 2012  bersama dengan wakilnya Mayjen TNI (Purn) Prijanto, namun sang wakil mengundurkan diri dari jabatannya.

Fauzi Bowo mengawali karirnya sebagai dosen pengajar di Universitas Indonesia tepatnya di Fakultas Teknik. Selain itu Beliau juga pernah menjabat sebagai Kepala Biro Protokol dan Hubungan Internasional dan Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta. Kemudian, Beliau menjadi wakil Gubernur Jakarta mendampingi Gubernur Sutiyoso.

Pada tahun 2007, Fauzi Bowo bersama wakilnya Prijanto maju untuk menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Beliau bersaing dengan pasangan Adang Daradjatun dan Dani Anwar. Pilkada dilaksanakan pada hari rabu tanggal 8 agustus 2007. Hasilnya Pasangan Fauzi Bowo-Prijanto berhasil menang dalam Pemilihan, dengan raihan suara Fauzi Bowo - Prijanto = 2.109.511 suara - 57,87%, Adang Darajatun - Dani Anwar = 1.500.055 suara - 42,3% (metrotvnews).

Riwayat Pekerjaan
2007-2012 Gubernur DKI Jakarta
2002-2007 Wakil Gubernur DKI Jakarta
1998-2002 Sekretaris Wilayah Daerah (Sekwilda) DKI Jakarta
1993-1998 Kepala Dinas Pariwisata DKI
1986-1988 Pejabat Kabiro Kepala Daerah DKI
1982-1986 Pejabat sementara (Pjs) Kabiro Kepala Daerah DKI
1979-1982 Kepala Dinas Pariwisata DKI
1979-1982 Pelaksana tugas Kepala Biro Kepala Daerah DKI
1977 -1984 Menjadi staf pengajar di Universitas Indonesia
1976 Asisten Ahli Tech. Univ. Braunschweig

Jabatan Informal
1.   Ketua DPW Nahdlatul Ulama (NU) DKI
2.   Ketua Badan Narkotika Provinsi (BNP) DKI
3.   Ketua PGJI (Persatuan Gerak Jalan Indonesia )
4.   Ketua KPAD (Komite Penanggulangan AIDS Daerah) DKI
5.   Ketua Badan Musyawarah Masyarakat Betawi (Bamus Betawi)
6.   Ketua KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia ) DKI
7.   Ketua Perhimpunan Masyarakat Melayu Baru Indonesia (Mabin)
8.   Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) DKI
9.   Ketua Masyarakat Ilmu Pengetahuan Indonesia (MIPI)

Pengalaman Organisasi
1.   Aktivis KAMI Fakultas Teknik Universitas Indonesia
2.   Aktivis Persatuan Pelajar Indonesia di Jerman Barat 1966/1967
3.   Anggota Dewan Pertimbangan Pemuda KNPI Pusat 1982-1984
4.   Bendahara DPD Golkar DKI 1983-1993


sumber :
http://gudang-biografi.blogspot.com/2012/02/biografi-fauzi-bowo.html
http://www.beritajakarta.com/2008/id/profil/fauzi.html

Biografi Jokowi - Joko Widodo

Nama Lengkap: Ir. H. Joko Widodo
Nama Populer: Jokowi
Tanggal Lahir: 21 Juni 1961
Tempat Lahir: Surakarta (Solo), Jawa Tengah, Indonesia
Agama: Islam

Keluarga Pak Joko Widodo
Istri: Hj. Iriana Joko Widodo SE,MM (47)
Anak: Gibran Rakabumi Raka, Kahiyang Ayu, Kaesang Pangerap


Riwayat Kehidupan
Joko Widodo lahir dari keluarga miskin yang tinggal di daerah bantaran kali yang kumuh di Surakarta, Jawa Tengah. Anak pertama dari empat bersaudara ini lahir dari keluarga penjual kayu, pasangan Noto Mihardjo dan Sujiatmi . Semasa kecil ia bersekolah di SD 111 Tirtoyoso Solo, dan melanjutkan ke SMP N 1 di kota yang sama. Selepas SMP, Jokowi bersekolah di SMA 6 Solo.

Sebagai keluarga penjual kayu, Joko kecil tumbuh sebagai anak yang terbiasa hidup susah. Kadang sulit makan dan membayar sekolah adalah salah satunya. Meski begitu ia dikenal sebagai anak yang tidak nakal, walau begitu ia sangat suka main seperti anak-anak lain pada umumnya.

Kegiatan yang sering ia lakukan semasa kecil adalah memancing ikan, main layang-layang, dan bermain sepakbola. Ada cerita unik yang dilakukannya ketika kecil yaitu dirinya suka sekali mandi di sungai di belakang rumahynya sambil mencari telur bebek di dekat sungai.

Joko Widodo adalah anak laki-laki pertama di dalam keluarga, tak heran bila ia menjadi penjaga bagi tiga adik perempuannya. Karena paling besar, ia sering membantu sang ibu mengasuh adik-adiknya. Kadang mengantar mereka ke sekolah, atau membantu para adik membereskan pekerjaan rumah. Bahkan ketika adik-adiknya beranjak besar, saat ada masalah dengan pacarnya, dirinya turut membantu menyelesaikan masalah tersebut.

Meski begitu, pria asli Solo ini tetap memiliki prestasi luar biasa di kelasnya. Padahal ia sendiri mengaku tak begitu rajin belajar, karena dahulu ia sering membantu orangtuanya seperti menagih pembayaran kepada pelanggan kayu atau menaikkan kayu yang sudah dibeli orang ke atas gerobak atau becak.

Lulus SMA, Joko hijrah ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikannya ke jenjang sarjana. Universitas Gajah mada (UGM) jurusan Teknologi Kayu menjadi pilihannya untuk belajar. Jurusan itu ia ambil karena ingin mewujudkan cita-citanya menjadi tukang kayu. Selama kuliah, ia ngekos di Yogya. Seminggu atau sebulan sekali ia pulang ke Solo naik bus.


Jokowi kecil adalah anak seorang "tukang kayu". Setelah Beliau lulus dari SMA, kemudian melanjutkan kuliah di Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada . Setelah lulus kuliah tahun 1985, dirinya merantau ke Aceh dan bekerja di salah satu BUMN. Kemudian ia kembali ke Solo dan bekerja di Perusahaan yang bergerak di bidang perkayuan, CV. Roda Jati. Setelah merasa cukup, pada tahun 1998, dirinya berhenti bekerja di CV tersebut dan memulai berbisnis sendiri bermodal dari pengalaman yang pernah ia miliki. Dengan kerja keras, ketekunan dan keuletan, akhirnya Jokowi berhasil mengembangkan bisnisnya dan menjadi seorang eksportir mebel.

Menjadi Walikota Solo

Pada tahun 2005, Pak Jokowi memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai Walikota Solo dengan partai politik PDI Perjuangan sebagai kendaraan politiknya. Akhirnya Beliau pun terpilih menjadi Walikota Solo. Selama kepemimpinannya, Solo banyak mengalami kemajuan.

Sikap rendah hati Walikota solo ini tidaklah dibuat-buat. Bagi Masyarakat Solo, Jokowi adalah sosok pemimpin yang sangat peduli dengan kehidupan mereka. Di lorong pasar dan jalan-jalan di Kota Solo, Pak Jokowi sering sekali mengobrol dan mendengarkan keluh kesah rakyat tanpa jarak.

Ada satu fakta yang sangat mengejutkan, Jokowi belum pernah mengambil gajinya selama menjabat sebagai seorang Walikota dan Mobil yang ia pakai sebagai mobil dinas saat ini hanyalah "warisan" mobil dinas pendahulunya yaitu Bapak Slamet Suryanto.

Pada pemilihan Walikota 2010-2015, Pak Jokowi berhasil meraih 90% suara dari total pemilih. Sungguh fantastis seorang pemimpin yang benar-benar dicintai masyarakatnya.

Karir:
- Pendiri Koperasi Pengembangan Industri Kecil Solo (1990)
- Ketua Bidang Pertambangan & Energi Kamar Dagang dan Industri Surakarta (1992-1996)
- Ketua Asosiasi Permebelan dan Industri Kerajinan Indonesia Surakarta (2002-2007)
Penghargaan:
- Joko Widodo terpilih menjadi salah satu dari "10 Tokoh 2008"
- Menjadi walikota terbaik tahun 2009
- Pak Joko Widodo jg meraih penghargaan Bung Hatta Award, atas kepemimpinan dan kinerja beliau selama membangun dan memimpin kota Solo.

selain itu, berkat kepemimpinan beliau (dan tentunya semua pihak yg membantu), kota Solo jg banyak meraih penghargaan, di antaranya
- Kota Pro-Investasi dari Badan Penanaman Modal Daerah Jawa Tengah
- Kota Layak Anak dari Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan
- Wahana Nugraha dari Departemen Perhubungan
- Sanitasi dan Penataan Permukiman Kumuh dari Departemen Pekerjaan Umum



sumber :
http://gudang-biografi.blogspot.com/2012/04/biografi-jokowi-joko-widodo.html
http://biografi-biodata-profile.blogspot.com/2012/07/profil-joko-widodo.html








Kedua,Biografi Calon Wakil Gubernur : Nara Vs Ahok


PROFIL Nachrowi Ramli (NARA)

Nama Lengkap : Nachrowi Ramli
Alias : Bang Nara
Kategori : Politikus
Agama : Islam
Tempat Lahir : Jakarta
Tanggal Lahir : Kamis, 12 Juli 1951


Ayah : Ramli bin Miun
Istri : Hj. Alfina Efi Maria
Anak : Dinar Eka Finarli,Githa Dwi Hastuti,Metha Tri Nirbaya,Ditha Ria Karinda

BIOGRAFI singkat

Bang Nara, panggilan akrab Mayjen TNI (Purn) H. Nachrowi Ramli lahir di Jakarta tanggal 12 Juli 1951. Ayahnya, Ramli bin Miun adalah seorang anggota Laskar Rakyat yang alih profesi menjadi pegawai Percetakan Negara yang akhirnya memiliki usaha percetakan sendiri. Menginjak kelas dua SMP, ayahnya meninggal dunia. Sejak 7 Juli 1965 itu Nara menjadi anak yatim. Nara kecil sudah mulai menunjukkan minatnya pada dunia politik, dia pernah bergabung dengan Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) Rakarsa, rayon Kramat Salemba dan ikut berdemo.

Setamat SMP Muhammadiyah 3, Nara melanjutkan ke SMA Muhammadiyah 1 di Jalan Kramat Raya 49 Jakarta Pusat. Seusai menyelesaikan studinya di SMA, nara yang sudah terlanjur cinta dengan TNI, akhirnya memutuskan untuk masuk ke Akademi Angkatan Bersenjata RI (Akabri). Nara mengikuti seleksi masuk Akabri mulai dari tingkat daerah, pusat, hingga lolos ke ke Magelang tahun 1969. Setelah empat tahun menempuh masa latihan di Lembah Tidar, tahun 1973 bersama ratusan taruna lainnya, termasuk Susilo Bambang Yudhoyono, Nara diwisuda. Selanjutnya dia mengikuti kursus kecabangan teknik elektro selama enam bulan di Pusat Pendidikan Perhubungan TNI AD di Cimahi, Jawa Barat. Di sana untuk pertama kali Nara belajar ilmu sandi. Karena nilainya yang bagus saat mengikuti kursus kecabangan teknik elektro, ia ditunjuk untuk mengikuti pendidikan di Akademi Sandi Negara tahun 1978.Melalui pendidikannya itu, setelah dua tahun Nara lulus sebagai salah satu siswa terbaik sehingga berhak menyandang gelar Ahli Sandi Tingkat III.

Pada 1984, untuk pertama kalinya Nara terpilih untuk mengikuti persiapan penugasan luar negeri. Ia ditarik ke Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg) dan selanjutnya diperbantukan ke Departemen Luar Negeri. Disinilah, pengetahuan Nara mengenai perang semakin terasah. Dia juga mempelajari bagaimana tata cara pergaulan di dunia diplomat yang memiliki aturan tersendiri. Pada awal Agustus tahun 1986, Nara ditempatkan sebagai Atase Administrasi di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kairo, Mesir. Belum genap satu minggu, tugas berat langsung menyambutnya. Bang Nara harus mengamankan perjalanan istri Wakil Presiden Umar Wirahadikusuma yang berkunjung ke Kairo dan sekitarnya. Sepekan kemudian Nara harus terbang ke Harare, Zimbabwe, untuk membantu kelancaran misi delegasi Indonesia dalam KTT Non Blok ke-VIII.

Pada tahun 2002, Nara ditunjuk untuk menggantikan Laksamana Muda B.O. Hutagalung untuk menjadi Kepala Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg). Sebagai kepala Lemsaneg, banyak kebijakan yang telah dibuat oleh Nara salah satunya adalah dengan menerbitkan Sistem Persandian Nasional (SISDINA) pada bulan April 2004. Selama 34 tahun mengabdi sebagai perwira TNI, Nara sudah membuktikan bahwa ia mampu menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya dengan hasil yang membanggakan.

Nara kemudian mulai masuk ke dunia politik dengan bergabung sebagai anggota Partai Demokrat. Hingga akhirnya pada tanggal 4 November 2010, Nara terpilih secara aklamasi sebagai Ketua DPD Partai Demokrat DKI Jakarta. Dalam pemilihan kepala daerah tahun 2012, Nara maju mencalonkan dirinya sebagai wakil gubernur DKI Jakarta mendampingi Fauzi Bowo.

PENDIDIKAN

SMP Muhammadiyah 3, Jakarta Pusat
SMA Muhammadiyah 1, Jakarta Pusat
Akademi Angkatan Bersenjata RI (Akabri)
KARIR
Perwira intelijen di lingkungan TNI AD (1974 – 1986)
Atase KBRI Mesir (1986 – 1992)
Deputi II Lembaga Sandi Negara RI (1995)
Deputi Bidang Pamsan & Komlek Lembaga Sandi Negara RI (1998)
Deputi Bidang Keamanan Lembaga Sandi Negara RI (1999)
Sekretaris Lembaga Sandi Negara RI (2001)
Kepala Lembaga Sandi Negara RI (2002 – 2008)

PENGHARGAAN
Satyalencana Kesetiaan 8 th. Mabes Abri 1985
Satyalencana Kesetiaan 16 th. Mabes Abri 1998
Satyalencana Kesetiaan 24 th. Mabes Abri 1992
Satyalencana Dwidya Sistha Mabes Abri 1997
Satyalencana Dharma Nusa Mabes Abri 1998
Penghargaan Persandian 20 th. Lemsaneg RI 1999
Penghargaan Persandian 30 th. Lemsaneg RI 2003
Bintang Kartika Eka Pakçi Nararya Presiden RI 2005
Bintang Yudha Dharma Nararya Presiden RI 2006
Bintang Kartika Eka Pakçi Pratama Presiden RI 2006
Bintang Yudha Dharma Pratama Presiden RI 2008
Bintang Jasa Utama Presiden RI 2008


sumber : http://profil.merdeka.com/indonesia/n/nachrowi-ramli/

Profil Basuki Tjahaja Purnama (Zhong Wan Xie/Ahok) -

Nama    : Basuki Tjahaja Purnama (Zhong Wan Xie/Ahok)
Tempat/tanggal lahir    : Manggar, Belitung Timur, 29 Juni 1966
Agama : Kristen
Istri    : Veronika (34)
Anak   : - Nicholas (14) - Nathania (11) - Daud Albeenner (6)
Ayah : Indra Tjahaja Purnama (alm)
Ibu : Buniarti Ningsih
Saudara/i: - Basuri T Purnama, dokter, Bupati Belitung Timur - Fifi Lety (praktisi hukum) - Harry Basuki (konsultan pariwisata dan perhotelan).

Pendidikan :
SD Negeri No 3 Gantung, 1977
SMP Negeri No 1 Gantung, 1981
SMA III PSKD Jakarta, 1984
S2 (magister manajemen) dari Jurusan Manajemen Keuangan di Universitas Prasetya Mulya (lulus 1993)
S1 (insinyur) Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral Universitas Trisakti, Jakarta (Lulus 1989)

Karier :
2005-2010, Bupati Belitung Timur, Provinsi Bangka Belitung
2009-2014, Anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi Partai Golkar
1989, Setelah menggondol gelar insinyur, Ahok mendirikan PT Panda di Belitung Timur yang bergerak di bidang kontraktor pertambangan PT Timah
1993-1995, bekerja pada PT Simaxindo Primadaya di Jakarta setelah menggondol gelar magister keuangan. Perusahaan ini bergerak di bidang kontraktor pembangunan pembangkit listrik. Ahok mendapat posisi staf direksi bidang analisa biaya dan keuangan proyek. Ia di Jakarta hingga 1995 sebelum memutuskan kembali ke kampung halaman untuk kembali mengurusi perusahaannya.
1992, mendirikan PT Nurindra Eka Persada, persiapan pembangunan pabrik pengolahan pasir kwarsi pertama di Belitung. Rencana ini direalisasikan pada tahun 1994. Pembangunan ini juga menjadi cikal bakal pengembangan Kawasan Industri Air Kelik (Kiak).
2004, hadir perusahaan Korea di KIAK yang mendirikan pabrik peleburan timah.

Karier Politik :
2004, bergabung dengan Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PIB) yang didirikan ekonom (alm) Syahrir. Ia menjabat sebagai Ketua DPC PIB Belitung Timur. Ahok ikut bertarung dalam Pemilu Legislatif 2004. Ia lolos dan menjadi anggota DPRD Belitung Timur Periode 2004-2009.
2005, Ahok memutuskan untuk ikut dalam bursa Pilkada Belitung Timur. Berpasangan dengan Khairul Effendi dari Partai Nasionalis Banteng Kemerdekaan (PNBK), keduanya sukses memenangkan pertarungan dengan meraup 37,13 persen dukungan warga. Ahok pun menjabat Bupati Belitung Timur definif pertama untuk periode 2005-2010.
Tahun 2007, ia ikut bersaing sebagai calon gubernur dalam Pilkada Bangka-Belitung. Namun, kali ini ia belum berhasil.
2009, ikut Pemilu Legislatif sebagai calon anggota DPR RI dari Partai Golkar. Ia berhasil memenangkan pilihan warga meski sebelumnya hanya ditempatkan sebagai calon nomor urut 4. Ia kemudian melangkah ke Senayan dan duduk sebagai anggota Komisi II DPR.
Penghargaan :
2007, dinobatkan sebagai Tokoh Antikorupsi dari unsur penyelenggara negara oleh Gerakan Tiga Pilar Kemitraan, Kadin-Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara-Masyarakat Transparansi Indonesia.
2008, dinobatkan sebagai 10 Tokoh yang Mengubah Indonesia oleh Majalah Tempo.

Prestasi khusus:
Saat menjadi Bupati Belitung Timur, ia mengalihkan tunjangan jabatan pejabat untuk program pendidikan dan pelayanan kesehatan gratis bagi warga.
Ahok juga menata manajemen pemerintahan kabupaten yang transparan dan bersih dalam penggunaan anggaran negara.
Saat menjadi wakil rakyat, dia termasuk tokoh yang berintegritas dalam hal menyuarakan aspirasi dan menjelaskan proses legislasi. Seluruh perkembangan diulasnya secara transparan dan dapat diakses publik melalui situs pribadinya.
Penghargaan
Gerakan Tiga Pilar Kemitraan, yang terdiri dari Masyarakat Transparansi Indonesia, KADIN dan Kementerian Negara Pemberdayaan Aparatur Negara, Kamis (1/2/2007), memberikan penganugerahan kepada para pribadi yang memberikan sumbangan terhadap upaya memberantas korupsi. Mereka adalah mantan guru SMPN 56 Jakarta Nurlaila dan Bupati Belitung Timur Basuki T Purnama (Ahok).
Ahok di nobatkan sebagai Tokoh Anti Korupsi dari unsur penyelenggara Negara. Ahok dinilai berhasil menekan semangat korupsi pejabat pemerintah daerah. Ini ditandai dengan penyelenggaraan pelayanan kesehatan dan pendidikan gratis bagi masyarakat Belitung Timur. Ahok mengalihkan tunjangan bagi pejabat pemerintah untuk kepentingan rakyat. Gerakan Tiga Pilar Kemitraan adalah kemitraan antara unsur pemerintah, dunia usaha dan masyarakat madani. Gerakan ini berdiri sejak tahun 2002 yang memiliki tujuan memberantas korupsi di Indonesia. Gerakan Tiga Pilar memiliki slogan "Bersih, Transparan dan Profesional" (BTP).
Kejujuran dan ketulusannya dalam mengabdikan diri untuk kesejahteraan rakyat dan Republik Indonesia juga menghantarkan Ahok menjadi salah seorang dari 10 tokoh yang mengubah Indonesia oleh Tempo.

Beberapa kisah menarik...

Banyak kisah lucu maupun sedih melekat dibenaknya hingga sampai sekarang yang tak akan pernah dilupakannya, ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Terutama saat jam pelajaran agama Islam semua siswa wajib mengikuti, tidak ada pengecualian bagi yang non muslim. Ia pun menemui kesulitan saat belajar membaca dan menulis ayat suci Al quran, karena ia seorang non muslim. Oleh gurunya, ia pun disarankan untuk mengikuti TPA (Taman Pendidikan Agama).
Perintah dari sang guru pun diikuti dengan berkunjung ke sebuah TPA (yang kebetulan adalah sebuah mushola) yang tidak jauh dari tempat tinggalnya pada suatu sore. Namun apa yang didapatnya bukanlah ilmu, tapi suatu hinaan dari seorang guru TPA saat itu, yang menyebut dirinya kafir. “Kamu orang kafir dak (tidak) boleh masuk ke sini (mushola). Ini hanya untuk orang Islam”. Ia pun diusir dan tidak boleh belajar membaca dan menulis Al Quran.
Ia pulang dengan sedih karena tidak bisa mengikuti pelajaran di TPA. Guru agama di sekolahnya lalu membebaskannya dari pelajaran membaca dan menulis Al Quran.

Ketika Ahok menjadi bupati, bukan masyarakat muslim yang protes dengan kebijakannya sebagai bupati. Malah umat yang seagama dengannya. Basuki dituduh tidak memperhatikan pembangunan gereja, malah mempermudah dan menyumbang pembangunan masjid2. Ahok berang,menurutnya gereja tidak perlu dibantu. “Kalian saweran aja, gereja udh jadi. Kalau masjid memang harus disokong.” Jelas Basuki. Masyarakat Muslim jumlahnya 93% dan masjid butuh banyak. Gereja cuma butuh sedikit dan umat kristen lebih baik ekonominya. Selain membangun mesjid, Ahok juga menaik-hajikan ustad dan ulama-ulama yang belum bergelar haji. Lebih dari 100 orang dihajikan. Ahok bahkan ikut safari ramadhan ketika bulan ramadhan tiba. Meski Ia harus menunggu saja di parkiran sampai selesai.

Ahok tidak membedakan orang, timses lawan politiknya di Belitung ada yg memiliki kinerja bagus dijadikan bagian dari jajaran pemerintahannya. Teringat ketika ke belitung, ada seorang pendeta yang datang menemui Ahok. Intinya ingin meminta sumbangan berupa mobil. Mobil itu konon katanya dipakai untuk antar jemput jemaat. Waktu itu pembicaraan Pak Ahok dan pendeta didepan saya. Ahok langsung menolaknya. Karena yang Kristen di desa Gantung (desa Ahok) hanya sedikit dan jaraknya sempit. Kalo tiap minggu ke gereja kata Ahok masih bisa jalan kaki. Si pendeta gak terima dan marah-marah ke Ahok sambil bilang “Kamu hanya sumbangkan ke masjid-masjid saja, agamamu tidak disumbang”. Ahok jawab ; “Aku sumbangkan gereja juga, Tapi tidak banyak karena disini mayoritas lebih banyak yang memakai mesjid”. Pendeta pun pulang.

Sumber :

http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/286-direktori/3810-bersahaja-dan-berani-antikorupsi
http://teguhhariyadi.blogspot.com/2012/03/profil-jokowi-dan-ahok-calon-gubernur.html#ixzz20y4RU6kq
http://politik.kompasiana.com/2012/07/15/membuka-siapa-sebenarnya-basuki-tjahaja-purnama-ahok/
http://jakartabaru.co/home/profile/ahok

Bersambung

About admin

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post