Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6


Umat Islam kehilangan tokoh Kristologi. H Abdullah Wasi’an (94), seorang kristolog senior meninggal dunia pada hari Rabu (16/2) di rumahnya, Jalan Perumahan Rewwin, Wedoro, Sidoarjo.

Sebelum ini, Abdullah Wasi’an telah dilarikan ke Rumah Sakit Haji Surabaya akibat kondisi fisiknya yang terus melemah.

“Beliau dirawat di rumah sakit selama 12 hari karena sakit tua dan ada penyumbatan jaringan saraf, “ ujar M Sodiq, salah satu murid Abdullah Wasi’an kepada hidayatullah, Rabu siang. Namun lima hari setelah di rumah beliau dipanggil Allah, “ tambah Sodiq. Menurut Sodiq, almarhum berencana dimakamkan di Surabaya hari ini usai shalat isya'.

Tetap produktif

Sebelum dipanggil Allah SWT, Abdullah Wasi’an dikenal sangat produktif menulis dan berkarya. Menurut M Mashud (40) seorang kristolog muda asal Surabaya, meski usianya 94 tahun, almarhum masih produktif menulis buku-buku tentang kristologi.

Di antara buku-bukunya yang sangat populer di masyarakat adalah; “100 Jawaban untuk Missionaris”, “Jawaban untuk Pendeta”, “Nabi Muhammad dalam Al Kitab”, “Pendeta Menghujat, Kiai Menjawab”.

Menurut Mashud, selama ini almarhum terus menulis, meski dengan bantuan alat pembesar dan mesin ketik butut.

“Beliau memiliki keterbatasan mata. Meski dengan keterbatasan alat, beliau tetap menulis dibantu kaca pembesar dan mesin ketik kuno, “ ujarnya pada hidayatullah

Selain itu, kata Mashud, Wasi’an adalah tokoh Islam yang bersahaja. “Beliau adalah orang yang tulis dan bersahaja. Dia adalah sosok yang tanpah pamrih, “ tambahnya.

Sementara itu, Bahrul Ulum, wartawan Majalah Suara Hidayatullah yang pernah mennulis biografi Abdullah Wasi’an berjudul “Benteng Islam Indonesia” mengatakan, sosok almarhum dikenal sebagai orang yang sangat kuat dalam ingatan.

“Pengalaman saya menulis buku tentangnya, beliau adalah orang yang sangat tajam dalam ingatan. Diusianya seperti itu, beliau masih hapal di luar kepala ayat-ayat bible, termasuk sejarah perkembanganya, “ ujar Bahrul.

“Kita benar-benar telah kehilangan orang sekelas beliau, “ tambah Bahrul.

Karenanya, Mashud berharap muncul pengganti sekelas Wasi’an. “Saya berharap ada murid-murid beliau yang mampu menggangganti dan mengembangkan ilmunya. *[Hidayatullah.com]

foto: kondisi almarhum terakhir saat dirawat/jurnal islam

About Admin

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments: