Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

Image

Kami tidak peduli, apakah ada penyusup di antara mereka, atau ada trik dan intrik politik negara lain, yang kami lihat mereka adalah manusia yang sedang sekarat maka kami harus membantunya.

Kontributor: Nova Araini

Aceh Timur-Dengan bahasa Inggris yang patah-patah, Abdul Rajak (20) masih SMU, menjawab pertanyaan Sabili. Mengaku bersekolah di Myanmar.

Aka, begitu remaja ini biasa disapa menjelaskan. Orangtuanya masih di Myanmar. Dirinya terusir karena tinggal di dekat perkampungan Buddha. Guru, polisi, tentara, semuanya Budha. Muslim tidak boleh bekerja. Sekolah, rumah sakit dikuasai Buddha.

"Maka kami mencari kerja ke Thailand," tuturnya.

Ketika Sabili bertanya, kemana yang perempuan, "Women?" Dia malah menjawab lain. Tak jelas. Satu perahu bersisi anak-anak dan perempuan, sampai hari ini tak pernah ditemukan.

Tak kurang akal, Sabili mencari data ke kantor pemerintahan setempat. Dari kantor kecamatan Sabili mendapat bantuan, terlebih dari Irfan Kamal dam juga Tgk H Iqbal MA, (38 Th) Sekretaris Dayah Insafuddin Aceh Timur dan juga pimpinan pesantren di Julok, Aceh Timur yang berperan sebagai penerjemah. Tgk H Iqbal menguasai bahasa Urdu, bahasa tutur para pengungsi yang terdampar.

Jumlah pengungsi 198 orang, 14 dilarikan ke rumah sakit. Karena menderita dehidrasi berat akibat 21 hari terombang-ambing di lautan lepas. Dari tepi laut Kuala Idie langsung dibawa ke kecamatan Idie Rayeuk.

Mereka mengaku dari Myanmar tapi tak satupun yang bisa berbahasa Myanmar, bahasa mereka adalah bahasa Banglash dan Urdu. Di antara pengungsi yang paling lancar berbahasa adalah pimpinan rombongan mereka, Syekh Rahmat.

Dia diangkat sebagai ketua karena bisa berbahasa Urdu dengan baik. Sedangkan yang lain hanya bisa berbahasa Banglash.

Ketika Sabili sampai di tempat penampungan pengungsi, mereka sedang shalat Dzuhur berjamaah. Walau dalam kondisi memprihatikan, nampak mereka menjaga dan memperhatikan betul shalat lima waktu.

Ada dua orang mengaku warga negara Myanmar dan selebihnya dari Bangladesh. Menurut cerita mereka, karena himpitan ekonomi di Myanmar yang didominasi umat Budha, mereka nyaris tidak bisa berbuat apa-apa. Umat Islam tidak boleh bekerja dan beraktifitas dengan layak.

Dengan sedikit modal tekad, mereka mencari kerja di Thailand dan Malaysia. Alih-alih mendapat nafkah, malah penjara jadi tempat mereka. Siksaan datang bertubi-tubi.

Mereka dipukuli sipir penjara Thailand. Bahkan Muhammad Salim putus jari tangannya karena dipotong. Sedang 25 orang meninggal di tahanan.

Puas menyiksa, tentara Thailand menggiring mereka ke pantai. Dari seribu orang tersebut dibagi menjadi empat gelombang. Mereka dimasukkan ke dalam perahu tanpa mesin, tanpa bekal, tanpa makanan, bahkan tanpa layar. Sama artinya dibunuh dengan cara dibuang kelautan.

Malah dijebloskan ke dalam penjara. Terakhir, mereka dibuang ke lautan. “Kami tidak tahu nama pulau atau pun lautnya,” kata Syekh Rahmat. Kelompok yang sampai ke Kuala Idie ini, gelombang keempat. Sisanya, entah kemana.

Melihat kondisi Muslim Rohingya, rakyat Aceh yang pernah mengalami hal yang sama di masa Daerah Operasi Militer (DOM) dengan cepat membantu. Makanan dan obat-obatan datang dari masyarakat sekitar.

Tampak seorang anak kecil menyodorkan biskuit tanpa berbicara, mata bertukar tatapan saling mengerti perasaan.

Pada awalnya, fenomena manusia perahu menjadi tontonan. Tapi tak lama berubah menjadi rasa solidaritas yang tinggi sebagai saudara seiman. Rasa haru nampak kental.

Bantuan diberikan, mulai dari makanan, uang, bahkan buah yang sudah dikupas untuk dihidangkan.

Camat Idi Rayeuk, Irfan Kamal mengatakan, perasaan simpati mengalahkan kecurigaan yang bermunculan seperti di media massa.

“Kami tidak peduli, apakah ada penyusup di antara mereka, atau ada trik dan intrik politik negara lain, yang kami lihat mereka adalah manusia yang sedang sekarat maka kami harus membantunya," katanya.

Deplu memuji sambutan hangat dari masyrakat Idie Rayeuk tersebut, karena sebelumnya mereka sudah ke Sabang mendata pengungsi di sana. Namun keputusan Departemen Luar Negeri, para pengungsi ini harus dideportasi dengan alasan sebagai economic migrant.

“Pada dasarnya Indonesia bukanlah sebuah Negara penampungan pengungsi. Meskipun mempunyai pengalaman di pulau Galang, yang terjadi pada pengungsi Vietnam,” ujar Jurubicara Departemen Luar Negeri Teuku Faizasyah

Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh di hari pertama mengeluarkan seruan untuk membantu secara maksimal. Bagaimana pun, para pengungsi adalah saudara seiman.

Di Jakarta, Jamaah Muslimin Hizbullah menggelar aksi dan mengecam pemerintahan Myanmar sebagai pelanggar HAM. Kepada Sabili, pimpinan Jamaah Muslimin Hizbullah, Muhyidin Hamidi mempertanyakan sikap Departemen Luar Negeri yang akan mendeportasi.

“Pemerintah pernah menampung pengungsi Vietnam dan menyediakan Pulau Galang. Apakah tidak mungkin memberikan kebijakan yang sama dengan Muslim Rohingya yang terusir dari tanahnya,” tandas Muhyidin Hamidi saat diminta komentarnya oleh Abidah Wafaa dari Sabili.

Para pengungsi ini benar-benar saudara kita, dan pertolongan harus diberikan. Mereka selalu shalat berjamaah. Salah satu ruangan kantor kecamatan, berubah fungsi menjadi mushalla dadakan. Lima waktu mereka tegakkan.

Setelah shalat biasanya ceramah disampaikan oleh Syekh Rahmat, pimpinan rombongan. Tgk Iqbal yang juga dosen serta pendiri pesantren di Julok sesekali diminta oleh para pengungsi untuk memberi siraman rohani dalam bahasa Urdu yang pernah dipelajarinya di masa silam.

Para pelajar pun tak mau ketinggalan peran. Mereka mengajarkan bahasa Indonesia dan menulis latin. Penduduk berbagi pakaian. Saat tiba di Idie, mereka dalam keadaan tanpa pakaian dan sudah berhari-hari tak makan. Beberapa langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan.

Di rumah sakit pemandangan tak kalah mengharukan. Masyarakat rela berkunjung ke rumah sakit kecil, dan silih berganti memberikan pertolongan. Sementara pegawai dan perawat rumah sakit seolah acuh dan tak memberi perhatian pada pengungsi.

Warga yang berkunjung ada yang memijat kaki para pengungsi yang tergelak lemah tak bertenaga. Ada yang membawa kopi dan minuman, dan bangsa rumah sakit berubah menjadi seperti kedai tempat bercengkerama pengungsi dan warga setempat. Seolah mereka sudah lama saling kenal.

Mereka terlihat akrab meski hanya dengan bahasa isyarat. Tatapan mata penuh kasih dan perlindungan. Bahasa iman telah mempersatukan.

Apakah kita harus mengusir mereka? Pemerintah negeri ini sekejam Thailand? Siapa peduli?
(emy)

sumber :sabili.co.id

About Admin

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments: