Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

ImageQUENSLAND - Pemerintah lokal wilayah timur laut Australia, negara bagian Quensland akhirnya menyetujui pembangunan gedung untuk sekolah muslim. Kebijakan itu sekaligus mengakhiri pertikaian selama setahun penuh dan melegakan komunitas Muslim di sana.
"Perencana kami menyimpulkan proposal gedung tersebut sejalan dengan Rencana Wilayah," ujar John Wayne, Pimpinan Tim Perencanaan Wilayah Pantai Emas Tenggara, dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan 3 Februari lalu.

Dalam laporan setebal 72 halaman, tim merincikan alasan persetujuan mereka terhadap pembangunan gedung Kampus Islam Internasional Australia di bagian paling selatan Carrara.

Tim juga menyatakan 54 persyaratan yang harus dipenuhi dalam konstruksi gedung, termasuk mengubah desain dengan memperlebar area parkir kendaraan. Mereka juga meminta dewan sekolah untuk menaikkan pembayaran bagi pemeliharaan air dan pengelolaan limbah.

Keputusan tersebut--yang bakal distempel oleh dewan negara bagian, Senin Depan--otomatis mengakhiri perdebatan setahun antara warga lokal dan pengelola sekolah.

November tahun lalu, ratusan warga mengerubung kantor dewan dan pemerintah kota untuk menentang pendirian sekolah, yang direncanakan bakal menampung 60 anak dari berbagai latar belakang.

Namun Walikota Ron Clarke bersikeras itu penting untuk mengakomodasi kebutuhan kelompok minoritas, dan menuding beberapa pendemo yang menggunakan alasan terorisme sebagai argumen penolakan.

Kelompok Kristen dan warga lokal mengatakan mereka akan menerim keputusan komita, dan tak melakukan protes lebih jauh. "Dari sudut pandang kami, kami akan melakukan apa yang harus kami lakukan," ujar Rod Gilchrist, seorang pastor dari lingkungan setempat, Dream Centre.

"Kami bukanlah musuh dan kami akan mencoba hidup berdampingan dengan mereka secara harmonis," ujarnya lagi

Muslim yang telah berada di Negeri Kanguru lebih dari 200 tahun lalu kini mencapai rasio 1,5 persen dari populasi total 20 juta orang. Meski minoritas, Islam menjadi agama kedua terbesar setelah Kristen.

Penerimaan

Komunitas Muslim dan pengelola sekolah tentu sangat bergembira dengan keputusan terseut. "Kami selalu yakin jika itu bukanlah keputusan emosional," ujar juru bicara Kampus Islami dan pemimpin Muslim, Keysar Trad seperti yang dikutip oleh Courier Mail, 3 Februari.

"Kami sangat gembira mereka datang dengan keputusan rasional dan logis berdasar panduan perencanaan wilayah, dan bukan karena histeria," imbuh Keysar.

Proposal pendirian gedung sekolah Muslim itu telah menghadapi penentangan keras dalam beberapa bulan terakhir. Kota kecil Camden misal, yang terletak di perbatasan Sidney, pada 2008 memilih untuk memblokade pembangunan sekolah Islam yang akan melayani sekitar 1.200 siswa.

Mau tak mau, paska peristiwa WTC 11 September, Muslim di Australia pun terkena imbas, dicurigai dan nasionalisme mereka dipertanyakan. Dalam sebuah jajak pendapat yang dilakukan Issue Deliberation Australia (IDA), lembaga think-thank ternama di negara itu menemukan jika warga Australia pada dasarnya melihat Islam sebagai ancaman terhadap cara hidup mereka.

Sebuah laporan terkini pemerintah juga mengungkapkan jika Muslim menghadapi tindakan Islamofobia mendalam, dan perlakuan berdasar rasis lebih parah-hal yang tak pernah mereka jumpai sebelumnya.(IOL/rpb/sbl)

sumber :sabili.co.id

About Admin

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments: