Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

BANDA ACEH — Muhammad Zubair merasa terlahir kembali ketika perahu yang membawanya beserta 200 kawan pengungsi Rohingya lain akhirnya berlabuh di pantai Indonesia setelah berminggu-minggu mengapung tak jelas di laut.

"Militer Thailand menyuruh kami masuk perahu dan menghalau ke laut tanpa makanan cukup," ujar Zubair, salah satu pengungsi Rohingya di Rumah Sakit Umum Idi, bagian timur propinsi Aceh, Indonesia.

Ia bersama 198 pengungsi Rohingnya--beberapa dalam kondisi kritis--berlayar ke bagian terbarat garis pantai Indonesia, Pulau Sabang di Propinsi Ache pada 3 Februari lalu."Kami berangkat dari tanah kelahiran pada 18 Desember dengan 6 perahu," kenang Zubair. "Saya kini tak tahu apa yang terjadi dengan tiga perahu lain," imbuhnya.

Perahu Rohingya pertama dengan 193 pengungsi mencapai pantai Aceh pada 7 Januari lalu. Dua perahu tersebut diyakini anggot grup perahu lain yang mengangkut sekitar 1.200 Rohingya, mengungsi dari kampung halaman dan berlabuh di Thailand akhir tahun lalu.

Banyak Muslim Rohingya yang tiba selamat di Indonesia membawa luka-luka akibat tindak kekerasan militer Thailand, seperti tulang patah, kulit terluka. "Mereka memukuli saya dengan tongkat," tutur Hussein Ahmad, salah satu pengungsi selamat, saat duduk di tempat tidur Rumah Sakit Aceh.

Sementara petugas militer Indonesia mengatakan pengungsi Rohingnya dalam kondisi mengenaskan. "Ketika mereka melihat patroli kami, tiba-tiba mereka terjun ke laut seperti ikan kelaparan dan berenang ke arah perahu kami," ujar Letnan Teddy Junaedi, Pimpinan Patroli dari Angkatan Laut Indonesia

Para nelayan dan penduduk lokal pun bergabung dengan AL untuk membantu kelompok tersebut. "Penduduk lokal mebawa sebagian pengungsi ke rumahnya," ujar Letnan Teddy.

"Beberapa dari mereka jatuh dan menangis begitu menapakkan kaki ke tanah untuk pertama kali setelah berminggu-minggu. Banyak dari mereka yang perlu segera dilarikan ker rumah sakit.

Tindakan penuh perawatan kepada Muslim Rohingya yang ditemukan di Indonesia ialah satu hal yang mereka tak pernah dapatkan di rumah mereka, demikian yang dikatakan Zafar Ahmead, presiden Organisasi Hak Asasi Etnis Rohingya di Malaysia.

"Mereka mengalami kekerasan sistematik dari junta," ujar Zafar seraya mengatakan saat ini populasi Rohingya sekitar 3,5 juta dan 2 juta masih berada didalam Myanmar sementara lainnya telah mengungsi.

Zafar mengatakan kekerasan dan diskrimansi parah berkelanjutan telah mendorong Muslim Rohingnya meninggalkan Myanmar. "Mereka diperlakukan sangat buruk dan tidak manusiawai, sehingga kami harus lari," ujarnya./iol/itz

sumber : republika online

About Admin

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments: