Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

Oleh: Achmad Supardi

Cadangan makanan habis di hari ke-14 perjalanan. Air harus demikian dihemat karena jumlahnya sangat menipis. Kompas murahan yang mereka bawa ke perahu tak bisa diandalkan. Mereka pun kembali ke masa lalu: membaca bintang-bintang. Lalu, mesin perahu pun mati. Pengungsi Etnis Rohingya, Myanmar, itu berharap sampai ke Malaysia, tapi terdampar di Thailand.

Tak ayal, 114 penumpang perahu itu bagai masuk ke mulut singa. Patroli perbatasan laut Thailand menangkap mereka. Imigran ilegal akan selalu mengalami nasib seperti ini. Bagi Thailand yang masih sering dirundung perlawanan sporadis dari gerilyawan muslim, kedatangan pengungsi Rohingya yang juga muslim tak bisa dipersepsi lain kecuali sebagai tambahan beban. Bahkan ancaman.

“Saya dan 113 rekan lain menghabiskan 2 pekan di Laut Andaman yang penuh badai. Tentu bukan akhir seperti ini yang kami harapkan,” ratap Zar Phaw (38), salah satu dari 114 pengungsi Rohingya yang ditahan di Takuapa, kota kecil di Thailand selatan.

Thailand menjadi sorotan internasional setelah saluran televisi kabel Amerika Serikat, CNN menayangkan gambar para pengungsi Rohingya yang terkatung-katung dalam perahu tanpa mesin, alat navigasi, dan persediaan pangan.

Di wilayah yang dimaksud UNHCR, wartawan Al Jazeera menemukan perahu-perahu yang sudah rusak. Diperkirakan bangkai perahu itu ditimbun begitu saja oleh pihak berwenang Thailand.

Penduduk Desa Kura Buri, Thailand kepada Al Jazeera mengaku mereka disuruh personel AL mencopoti mesin perahu sebelum para pengungsi Rohingya ditarik kembali ke laut.

Pengakuan yang sama disampaikan seorang aparat AL Thailand kepada Al Jazeera. Menurut dia, pihaknya memang mencopoti mesin-mesin di perahu para pengungsi dan mengusir mereka kembali ke samudera. Inilah perlakuan tidak manusiawi yang mengundang kecaman seluruh dunia kepada Thailand.

Bangkok dikecam karena mengusir para pengungsi dalam perahu tanpa mesin yang membuat mereka dekat pada kematian, baik karena hempasan ombak maupun karena kehabisan makanan sementara mereka belum bertemu daratan. “Kami harus mencopoti mesin-mesin perahu mereka. Kalau tidak, mereka akan kembali ke Thailand,” kata aparat itu. Dengan enteng dia melanjutkan, “Angin akan membawa mereka ke India atau suatu tempat lain.”

Terbiasa Disiksa

Memang, perlakuan buruk aparat Thailand bukan mimpi terburuk Zar Phaw dan rekan-rekannya. Mereka terlalu terbiasa disiksa oleh rezim militer Myanmar.

Junta militer yang memiliki begitu banyak catatan merah HAM, tak pernah menganggap Rohingya sebagai rakyat mereka. Junta militer ingin Rohingya pergi ke Bangladesh, atau ke mana pun, asal melepaskan statusnya sebagai warga Myanmar. Dan untuk tujuan yang satu ini, junta militer Myanmar melakukan apa saja.

Sekitar 850.000 warga Etnis Rohingya yang tinggal di kota-kota kecil Maungdaw, Buthidaung, dan Rathedaung di bagian utara Negara Bagian Arakan (Rakhine), bahkan tak tercantum dalam catatan resmi kependudukan Myanmar.

Junta militer tidak menganggap mereka sebagai warga negara.

Gerakan-gerakan nasionalis Myanmar yang didorong pemerintah –seringkali dengan bantuan komunitas Buddha lokal—melakukan banyak langkah untuk menyangkal eksistensi Etnis Rohingya. Mereka menganggap Rohingya tak lebih dari bangsa asing asal Bangladesh dan India yang menyusup ke Myanmar.

Hasilnya, Etnis Rohingya menjadi sapi perahan. Pajak yang harus mereka bayar lebih banyak dari warga etnis lainnya. Tanah mereka sering disita, rumah mereka dirobohkan, akses ekonomi mereka dimatikan sepenuhnya. Bagaimana pun caranya, mereka jarus pindah dari tanah moyangnya.

Sekitar 200.000 warga Rohingya lari ke Bangladesh setelah terjadinya Operasi Nagamin (Raja Naga) oleh militer Myanmar. Operasi ini membunuh dan memperkosa warga, juga menghancurkan tempat tinggal dan masjid mereka.

Gelombang pengungsian ke Bangladesh dalam jumlah lebih besar terjadi tahun 1991-1992. Mereka lari karena militer Myanmar menjadikan mereka sebagai budak. ”Junta militer menggunakan makanan sebagai senjata. Mereka membuat hidup menjdi begitu susah bagi warga Rohingya hingga tak ada pilihan selain pergi. Strategi ini terbukti efektif memaksa warga Rohingya meninggalkan Arakan,“ kata Chris Lewa, peneliti tentang Etnis Rohingya dan koordintaor Arakan Project yang berbasis di Bangkok, Thailand.

"Kondisi ini membuat warga Rohingya berubah dari pengungsi terbuka (refugee) menjadi pengungsi tertutup (migran karena masalah ekonomi),“ kata Lewa.

Akhirnya, bagi Etnis Rohingya, mengungsi ke Bangladesh adalah pilihan paling murah dan mudah. Seperti terjadi tahun 1991 saat gelombang pengungsi Rohingya menyerbu Bangladesh. Banyak di antara mereka yang direpatriasi (dikembalikan ke negara asal), sebagian besar secara paksa. Namun mereka telanjur tak melihat ada harapan di Myanmar. Seratus direpatriasi, seribu menyerbu kembali ke Bangladesh.

“Banyak rekan-rekan saya yang pulang ke Myanmar tak lagi menemukan rumah mereka. Rumah-rumah itu telah dihancurkan junta militer,” kata Haji Abdul Motaleb, salah satu pengungsi Rohingya yang cukup bertuntung di Bangladesh.

Namun bagi rata-rata pengungsi Rohingya lainnya, Bangladesh tak memberi harapan apa-apa. Bangladesh memang Muslim, sama seperti mereka. Wajah, bentuk tubuh, dan rambut mereka juga sama. Dari segi bahasa, Rohingya juga memiliki kedekatan linguistik dengan Bahasa Bengali dialek Chittagong (kota pelabuhan terbesar Bangladesh).

Bahasa ini kembali dipakai warga pada 1969. Maklum, selama masa penjajahan yang panjang, Inggris menetapkan Bahasa Inggris, Urdu, dan Persia sebagai bahasa utama. Sejak itu, para ahli menulis Bahasa Rohingya menggunakan huruf Arab.

Namun sedekat apapun Etnis Rohingya dnegan Bangladesh, Bangladesh adalah bangsa yang sangat miskin dan terlalu akrab dengan bencana. Untuk hidup mereka sendiri saja susah, tak heran bila pengungsi Rohingya tak disambut dengan ramah.

Sebagai imigran ilegal, mereka dilarang melamar pekerjaan resmi. Bagai lingkaran setan, mereka pun kembali menjadi sapi perahan majikan-majikan di sana yang menbayar mereka tak sampai Rp 9.000 per hari.

‘’Kehidupan di sana (Bangladesh, Red.) sangat berat. Saya tak bisa menghidupi istri dan tujuh anak kami,” kata Zar Phaw.

Tanah Harapan

Tak ada pilihan, para pengungsi Rohingya hanya punya satu nama sebagai harapan: Malaysia.

Negara ini berpenduduk muslim, sama seperti mereka. Bedanya, Malaysia kaya dan sejak lama butuh pekerja asing. Bila pekerja asal Bangladesh dan India mereka terima, bukankah kesempatan bagi warga Rohingya juga terbuka? Begitu pikir mereka.

Ini perjalanan yang tidak mudah, sama sekali tidak murah. Untuk menjadi manusia perahu, mereka harus membayar 12.000-15.000 kyat (sekitar Rp 99-121 ribu) per orang. Biaya yang “tak seberapa” ini bukan jumlah yang kecil bagi mereka. Baik di Myanmar maupun di pengungsian di Bangladesh, pendapatan warga Etnis Rohingya jarang mencapai Rp 9.000 per hari. Mengumpulkan uang Rp 99-121 ribu, bagi mereka, butuh pengiritan luar biasa. ‘’Banyak di antara kami yang berpikir akan mendapat penghidupan yang lebih baik di Malaysia,’’ kata Zar Phaw. ‘’Karena itu kami risikokan semua milik kami dalam perjalanan ini,’’ lanjutnya, kelu.

Padahal, di tanah impian bernama Malaysia itu, warga Rohingya juga tak sepenuhnya diterima. Para pengungsi terdahulu, yang tiba di Malaysia sekitar 1990-an, beberapa kali terlibat kejahatan. Fenomena yang sebenarnya wajar mengingat betapa berat kehidupan mereka. Sebagian Etnis Rohingya yang “lumayan beruntung” hanya menjadi tukang loak barang-barang bekas. Dalam kondisi putus asa demikian, sebagian Etnis Rohingya terlibat kriminalitas.

Pada 2002, sejumlah kelompok Rohingya menyusup ke kompleks UNHCR di Kuala Lumpur untuk mencari suaka. Dua tahun kemudian, sebuah kelompok pencari suaka Rohingya membakar gedung Kedubes Myanmar di Kuala Lumpur dan menyerang snag dubes. Kejadian-kejadian ini membuat sebagian warga Malaysia berkurang simpatinya.

Beruntung, Pemerintah Malaysia yang sangat ketakutan pada isu-isu terorisme, masih mau memberi bantuan bagi pengungsi Rohingya. Mereka mendata para pengunsgi malang itu agar mereka bisa bekerja secara legal di sana. Malaysia juga membolehkan anak-anak imigran ini bersekolah di sekolah negeri. Sayang, kebijakan ini dihentikan Agustus lalu. Alasan pemerintah, banyak makelar dan agen yang korup dan memanfaatkan kebijakan ini untuk keuntungan mereka sendiri.

Di luar itu, nasib buruk memang mengintai pengungsi Rohingya kapan saja. Apalagi, baik Thailand maupun Malaysia belum menandatangani 2 perjanjian internasional yang sangat penting bagi nasib pengungsi, yakni United Nations Convention Relating to the Status of Refugees 1951 dan Protocol Relating to the Status of Refugees 1967.

Namun bagaimana pun, nasib warga Rohingya memang tak boleh dibebankan pada bangsa-bangsa lain. Mereka adalah warga Myanmar, Myanmar pula yang harus menjadi pihak pertama yang memperhatikan nasib Etnis Rohingya.

“Kami tak diakui oleh junta militer yang berkuasa sebagai salah satu dari 130 masyarakat minoritas di negeri kami. Tekanan internasional diperlukan agar para penguasa Myanmar menghentikan penindasan mereka terhadap orang Rohingya,” kata Motaleb. (*)


sumber :surabayapost.co.id

About Admin

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments: