Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

Konflik antar faksi di Palestina adalah penyebab utama keterpurukan dan kehancuran bangsa tersebut, ujar presiden Turki

Hidayatullah.com--Demikian dikatakan Presiden Turki Abdullah Gul di sela-sela pertemuan Turki-Saudi Arabia yang digelar di Riyadh, Saudi Arabia, pada Rabu (4/2) kemarin, sebagaimana dilansir harian Turki berbahasa Arab Akhbar al-Alam (5/1).

"Bagaimana mungkin Palestina akan bisa merdeka, akan mampu menyelesaikan permasalahan yang datang dari luar (Israel), sementara di dalam sendiri mereka masih kerap berselisih dan silih berpecah belah," ungkap Gul.

Untuk itu, Presiden Turki dari kubu Islami untuk pertamakalinya semenjak era Sekulerisme (1923) itu menyerukan kepada semua pihak Palestina untuk dapat menyelesaikan masalah internal dengan baik, untuk kemudian bersatu padu.

"Palestina seharusnya memegang erat seruan konferensi Mekkah yang digelar pada tahun 2007 silam, yang menyerukan antar elemen bangsa Palestina untuk bersatu padu," seru Gul.

Gul menambahkan, jika bangsa Palestina bisa bersatu, niscaya mereka akan dapat menyelesaikan pelbagai macam persoalan, utamanya Israel, dengan baik. Dan tentunya, mereka juga tidak akan mengalami tragedi tragis yang baru saja menimpa Gaza.

Selama ini, yang patut disayangkan, sesama faksi dan kelompok Palestina justru tidak saling bersatu. Lebih-lebih karena kelompok sekuler Fatah yang tak mengakui keberadaan Hamas dan lebih memilih bersahabat dengan Israel yang jelas menjajah bangsa Palestina.

Hubungan ini menyebabkan konflik bersenjata yang tak jarang menyeret kepada perang saudara. Tahun lalu, misalnya, faksi Hamas dan Fatah terlibat bentrok dan adu senjata di Gaza, yang mengakibatkan beberapa orang tewas dari kedua belah pihak.

Ketakharmonisan antar faksi juga sempat hidayatullah.com rasakan saat menemui salah seorang anggota sekuler Fatah yang tinggal di Tepi Barat di sela-sela Cairo International Book Fair beberapa hari yang lalu. Ketika hidayatullah.com bertanya tentang kabar Hamas dan Gaza, orang tersebut bereaksi ketus dan tak acuh.

"Jika mau bertanya tentang Gaza, ya tanya sana sama orang Gaza. Ana laysa Gazawi, ana Dhafawi (Saya bukan orang Gaza, saya orang Tepi Barat)," ungkapnya dengan nada tak ramah.

Sementara itu, Raja Saudi Arabia Abdullah ibn Abdul Aziz mendukung langkah-langkah yang diambil Turki untuk menciptakan perdamaian di Palestina, juga di kawasan Timur Tengah.

"Harus ada usaha yang jauh lebih keras dari dunia Arab dan internasional untuk menghentikan arogansi dan agresi Israel," kata Raja Abdullah.

Gul berada di Saudi Arabia selama tiga hari, tercatat sejak Selasa (3/2) kemarin. Turki dan Saudi Arabia menggelar pertemuan untuk meningkatkan hubungan dan kerjasama antar kedua negara di pelbagai bidang, utamanya ekonomi dan perdagangan. [atj/alm/www.hidayatullah.com]

About Admin

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments: