Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

hasan"Ustadz Donat". Begitulah secara spontan santri Supercamp "La Roiba" Diwek, Jombang, menyebut Ustadz Rohimi ketika beliau memperkenalkan diri dihadapan mereka. Kok, donat?
Begini penjelasannya. Kata ‘’donat’’ itu kepanjangan dari kombinasi huruf D-N. D berarti "Darah" yang melambangkan angka 0, sedangkan N berarti ‘’Nuri’’ yang melambangkan angka 2. Jadi, Donat = angka 02. Sedangkan Asmaa Allah kedua dalam susunan Asmaa ul Husna adalah ‘’Ar Rohiim’’ (Yang Maha Penyayang). Nah, para santri menghafal bunyi, arti, dan nomor urutnya dalam bentuk kalimat: ‘’Ustadz Rohim sangat Penyayang. Dia selalu memberi donat murid-muridnya.’’
Maka, jadilah ustadz Rohimi disapa ‘’Ustadz Donat’’.
Itulah cara menghafal Metode ‘’Hanifida’’ karya pasutri energik Ustadz Hanifuddin Mahadun dan Ustadzah Ida Hanif Mahmud. Metode ini tergagas spontan saat mereka naik pesawat menuju Kabupaten Kutai Tarumanegara, Kalimantan, tahun 1998.
‘’Waktu itu, kami hendak mempresentasikan hafalan santri di Universitas Tarumanegara. Di pesawat saya corat-coret gambar, lalu mencoba anak saya untuk mempraktikkan metode hafalan ini. Ternyata dia dengan cepat bisa menguasai,’’ kenang Ustadz Hanif MA yang asal Lampung.
Metode tersebut kemudian dia sempurnakan bersama sang istri. Selain itu, dengan basis asosiasi gambar yang sama, mereka pun menyusun metode menghafal Juz Amma dengan cerita. Misalnya: ‘’Bis kota itu mengangkut bintang-bintang selebritis. Ada nona cantik, ada Bruce Lee, dsb. Makka-nya, hati-hati dalam bersikap dan bertindak.’’ Kata yang dicetak miring dalam kalimat ini menunjukkan: 85 (nomor surat, dari B[ayi]-S[anca] = 8-5), Bintang-Bintang (arti nama surat), Al Buruuj (nama surat), Makkiyah (jenis surat), dan inti isi surat.
Kyai Penyair Musthofa Bisri menamainya Metode ‘’Hanifida’’. Dan dengan dorongan Ustadz Quraish Shihab, metode ini telah dipatenkan sejak 2006.
Salah satu pemraktik metode ini namanya Latifatul Firdaus. Meski umurnya baru 9 tahun dan duduk di kelas 2 MI, sulung dari 3 bersaudara anak pasangan Nur Afifah-Zaenal Arifin ini sudah hafal Juz Amma (juz 30) serta 2 juz Qur’an lainnya.
Tak sekadar hafal secara berurutan, Latifah juga piawai menyebut nomor dan bunyi ayat secara acak dalam juz yang dia kuasai. Termasuk membaca dari belakang (dengan urutan terbalik).
Inilah putri mungil asal Desa Kedawung, Kec Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, yang merupakan salah satu diantara 100.000 bibit unggul calon Tahfdiz Qur’an. Selain menjadi seorang hafidzah, cita-cita luhur Latifah adalah jadi dokter.
Doa dan donasi Anda niscaya menyuburkan semai cita Latifatul Firdaus dan kawan-kawan. Insya Allah. (ah)

sumber :www.wisatahati.com

About Admin

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments: