Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

imageMeski masyarakat di sekitar saya mayoritas beragama Islam, tapi saya tak terpengaruh oleh mereka. Sejak kecil hingga dewasa dan berumah tangga saya tetap beragama Kristen Protestan. Ini adalah hasil binaan yang diterapkan kedua orang tua saya. Padahal, pergaulan saya dengan masyarakat pribumi termasuk paling akrab. Saya lebih sering ngobrol dengan mereka dan menghabiskan hari-hari kami sambil bercanda. Saya sudah terbiasa bergaul dengan siapa saja, tidak melulu kepada yang beragama Protestan saja. Maklumlah, profesi saya sebagai orang pedagang menuntut sikap luwes dalam pergaulan. Salah satu teman akrab saya bahkan anak seorang kiai di pantai utara Jawa Tengah. Dialah yang pada akhirnya sanggup membimbing saya ke jalan yang cerah setelah rumah tangga saya diamuk badai dan gelombang.

Sebagaimana telah saya sebutkan, sejak kecil saya sudah terbiasa dengan kehidupan gereja. Apalagi jarak gereja dengan rumah saya hanya sekitar 100 meter. Tepatnya di dekat Pasar Ngablak, Kecamatan Cluwak, Pati.

Saya bergabung dengan Gereja GKMI (Gereja Kristen Muria Indonesia). Bersama kakak dan adik serta orang tua, saya hampir tak pernah absen setiap Minggu mengikuti kebaktian di gereja tersebut. Apalagi kedudukan saya sebagai kakak dari 5 orang adik, sehingga hares memberi contoh dalam segala hal, termasuk dalam mengikuti kebaktian. Meskipun ada kesibukan bisnis yang luar biasa, tapi dalam hal yang satu ini, rasanya tak mungkin ditinggalkan.

Bergelimang Noda
Saya akui memang, sejak kecil saya sudah terbiasa dengan melimpahnya uang dan harta benda. Tapi sayangnya, karena uang yang melimpah itulah yang menyeret saya ke lembah hina. Perbuatan Mo Limo (main, madat, minum, maling, madon) yang dilarang oleh agama mana pun, sudah biasa saya lakukan. Tapi yang paling sering adalah minum dan main perempuan (madon).

Ketika saya masih bujangan, saya sudah punya perempuan simpanan di Desa Dukuhseti. Dari basil "kumpul kebo" itu akhirnya membuahkan seorang anak perempuan. Tidak cukup di situ, di tempat lain saya juga punya tempat "singgah", meskipun tak begitu akrab. Namun sebagai laki-laki normal, saya juga mendambakan seorang istri yang setia mendampingi hidup saya. Yang bisa menghibur saya di kala susah, merawat saya di kala sakit, serta mampu memberikan anak yang sah untuk melanjutkan cita-cita saya.

Maka, pada tahun 1982 saya resmi menjadi suami dari seorang gadis pilihan saya yang bernama Ong Kwi Wa. Dari pernikahan itu lahirlah anak pertama kami yang saya beri nama Lilik Kristianto.

Tapi, bahtera rumah tangga yang saya bina dengan baik itu, mendapat prahara. Dan itu saya akui memang akibat perbuatan saya sendiri. Sebab, meskipun saya sudah menjadi suami dan punya istri cantik, tapi saya masih sering mendatangi bekas simpanan saya di Desa Dukuhseti itu. Bukan saya tak puas dengan pelayanan istri saya. Tapi hal itu semata-mata karena kebiasaan saya saja. Saya ingin variasi dalam hidup ini, sehingga ingin merasakan "menu" lain.

Istri saya yang mencium ulah saya itu, tentu saja marah besar. Lalu, untuk menenteramkan hatinya, kami pun pindah ke Surabaya. Di kota pahlawan itu saya tinggal di sebuah rumah kontrakan. Saya juga mengontrak kios kecil di pasar. Saya mulai usaha baru dengan berjualan roti, minuman ringan, dan kue-kue.

Tapi lagi-lagi saya tak mampu mengendalikan hawa nafsu. Kali ini saya terpikat seorang gadis dari Blitar yang berprofesi sabagai sales girl air mineral. Gadis itu memang biasa datang ke tempat saya untuk menitipkan barang dagangannya. Saya sendiri tak mengerti, mengapa gadis hitam manis itu sampai terpikat pada saya. Padahal, ia tahu saya sudah punya anak dan istri. Bila istri saya sedang menjaga kios, is pun sering datang ke rumah kontrakan saya.

Puncaknva, saya menurut saja bagaikan seekor kerbau yang dicucuk hidungnya. Saya menuruti ajakannya untuk pergi ke Blitar untuk menemui orang tuanya. Rupanya, gadis itu sudah berbadan dua akibat ulah saya. Ia meminta ketegasan saya untuk menikahinya. Lalu, diceritakanlah perihal hubungan kami berdua kepada orang tuanya.

Titik Terang
Saya tak ingin menyakiti hati istri yang telah setia mendampingi saya dan mau menerima kenyataan penyelewengan saya dengan lapang dada. Maka keputusan terakhir adalah meninggalkan Surabaya tanpa pamit kepada sales girl "kekasihku" yang sedang hamil itu. Saya segera kembali ke Pati, dan menekuni usaha semula. Dan seperti biasanya saya pun masih bergabung dengan jemaat GKMI.

Namun saya masih belum kapok juga, terutama soal perempuan. Bahkan kali ini lebih parah lagi. Akibatnva, istri saya "mutung" alias patah arang. Ia tak mau lagi mendampingi saya, lalu mengambil jalan pintas, kabur ke jakarta. Anak saya Lilik dibawanya serta. Tentu saja, saya menjadi kesepian.

Dalam situasi separti itu, saya teringat teman saya yang bernama Maskan. Saya pun dibawa menghadap kepada ayahnya. Beliau seorang kiai. Namanya K. H. Danuri. Dari kiai itulah saya menerima nasehat yang berharga. Di antaranya coal tanggung jawab seorang suami kepada anak dan istrinya.

Dari masalah keluarga, dialog merembet pada persoalan ketuhanan, termasuk konsep trinitas dan dosa warisan dalam teologi Kristen. Terus terang, saya tak paham betul konsep trinitas itu. Apalagi menerangkannya kepada orang lain. Sava hanya tahu, berdasarkan penjelasan seorang pendeta yang menjelaskan trinitas kepada Kiai Singotruno di Jawa Timur. Menurut Pendeta Coolen, trinitas dhbaratkan sebagai nyala api pada sumbu lilin. Jadi, dalam sumbu Win ada nyala api yang terang. Ketiganya menjadi satu.

Contoh lainnya, Yesus adalah firman yang menjadi daging. Tapi aku lebih tertarik dengan penjelasan K.H. Danuri tentang konsep ketuhanan menurut Islam. Dalam Islam, Allah itu Esa. Kedudukan Yesus yang oleh umat Islam disebut Nabi Isa, hanya sebagai rasul (utusan) Allah. Bukan Tuhan. Ternyata, itu sesuai dengan pemyataan Yesus sendiri dalam Alkitab.

Setelah berjumpa K.H. Danuri, saya pun mulai pasif ke gereja. Ketika kemudian pendeta GKMI datang ke rumah untuk menanyakan kepasifan saya, langsung saja saya berondong dengan pertanyaan tentang trinitas. Ternyata ia tak mampu menerangkannya dengan jelas. Dan dari hasil penyelidikan saya, ternyata yang mengajarkan trinitas adalah Paulus bukan Yesus.

Keyakinan saya terhadap Islam kian kuat manakala saya bertemu dengan kenalan baru yang mengomentari kebejatan saya selama ini. Menurutnya, semua dosa akan diampuni Allah bila pelakunya sanggup berbuat benar. Kini, saya benar-benar telah tobat, dan senantiasa berusaha melahirkan kebajikan-kebajikan. Di usia saya yang lebih setengah abad lebih ini, saya masih mendambakan seorang muslimah yang sanggup menerima saya apa adanya sehingga hidup saya tenteram. Lebih dari itu, saya pun tak lupa bersyukur, sebab keislaman saya mendapat restu orang tua. Bahkan, papa telah mengikuti jejak saya di jalan Islam. (Moh. Ichsan/Albaz - dari Buku "Saya memilih Islam" Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/)


sumber :www.swaramuslim.net

About Admin

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments: