Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

Atasi Krisis Air, ACT Siapkan 237 Truk Tangki Berisi Air

Tim Emergency Response Aksi Cepat Tanggap untuk Bencana Kekeringan, menyiapkan 237 truk tanki berisi air bersih untuk didistribusikan ke beberapa wilayah di Kabupaten Bandung, Kabupaten Bogor, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Karawang, Kabupaten Blora, DKI Jakarta  dan Daerah Istimewa Yogyakarta. 
Vice President Aksi Cepat Tanggap (ACT) Insan Nurrohman menyatakan hal tersebut Selasa, (14/10/2014). 
Kendati sejumlah tempat telah mendapatkan hujan, tak berarti kekeringan telah berakhir. Kebutuhan air yang bersifat emergency, khususnya kebutuhan air minum, masih diperlukan. 
Alhamdulilah, sejak bencana kekeringan mulai melanda, ACT telah mendistribusikan air bersih melalui truk tanki berkapasitas 5000 dan 8000 liter. Sampai Senin malam, tak kurang 237 truk tanki berisi air bersih telah dan siap berkeliling menyalurkan air bersih bagi warga yang membutuhkan. “ Tadi malam kami mendapatkan laporan, Kabupaten Blora telah siap dengan 10 truk tanki air berkapasitas 5000 liter. 
Bandung siap dengan 45 truk tanki air berkapasitas 5000 liter, dan Jakarta siap dengan 182 tanki air kapasitas 8000 liter. Total 237 tanki air,” papar Insan. 
Insan mengatakan, berdasarkan pantauan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), wilayah terdampak kekeringan sebenarnya sangat luas. Selain sejumlah wilayah kekeringan di Pulau Jawa, ada sekitar 50 wilayah di Pulau Bali dan Nusa Tenggara mengalami kekeringan ekstrem hingga akhir September. “Beberapa pakar memprediksi kemarau sampai akhir Oktober. Daerah tersebut tak tersentuh hujan sejak dua bulan belakangan,” ujar Insan. Beberapa daerah di Nusa Tenggara yang terkena kekeringan ekstrem di antaranya Lape, Lambu, Madapangga, Majeluk, Monta, Moyohilir, Moyohulu, Mujur, dan Terano. Sebagian besar kekeringan terjadi di Nusa Tenggara Barat (NTB). 
Selanjutnya, di wilayah Bali, kekeringan terjadi di Banyupoh, Bengkala, Bondalem, Catur, Grokgak, Pecatu, Tianyar, dan lainnya. Di Jawa Timur kekeringan pun terjadi di berbagai daerah, seperti Lamongan, Widang, Tugu, Sumberejo, dan sebagainya. Pada awal Oktober, beberapa wilayah di Jawa Tengah juga berpotensi kekeringan, di antaranya, Demak, Pati, Rembang, Boyolali, Purworejo, Sragen, Wonogiri, dan Klaten. Kekeringan ekstrem di daerah-daerah tersebut diindikasikan melalui alat penakar hujan yang dipasang di setiap wilayah. 
Dari 237 tanki air  yang akan disediakan,  Tim Emergency ACT telah memetakan sejumlah wilayah terdampak kekeringan. Berikut wilayah-wilayah yang telah dan akan didatangi Water Tanki Mobile Tim Emergency Response ACT: 
1.    Parung Panjang Kab. Bogor 
2.    Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi 
3.    Cibarusah, Kabupaten Bekasi 
4.    Sukatani, Kab Bekasi 
5.    Cariu, Kabu Bogor 
6.    Jonggol, Kab Bogor 
7.    Babelan, Kab Bekasi 
8.    Paliyan, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) 
9.    Saptosari,  DIY 
10.    Panggang,  DIY 
11.    Rongkop, DIY 
12.    Karangreja, Kabupaten  Purbalingga 
13.    Tepus, DIY 
14.    Tanjungsari, DIY 
15.    Gedangsari, DIY 
16.    Prambanan, DIY 
17.    Pamengpeuk,  Kab Bandung 
18.    Cangkuang, Kab Bandung 
19.    Cileunyi, Kab Bandung 
20.    Karawang, Kab Karawang. 
21.    Solokan Jeruk,  Kab Bandung 
22.    Grejet,  Kab Cirebon Keterangan 

foto: Truk Tanki Air blusukan dan berkeliling ke wilayah-wilayah terdampak kekeringan (dok ACT) - See more at: http://www.act.id/id/whats-happening/view/554/atasi-kekeringan-aksi-cepat-tanggap-siapkan#sthash.PFTGm2Tj.dpuf

Islamic Book Fair Di Masjid Raya Pondok Indah

Masjid Raya Pondok Indah yang beralamat di Jl Sultan Iskandar Muda no 1, Pondok Indah Jakarta Selatan yang sering disebut masjid biru, di tahun 2014 dalam memperingati Isra' Mi'raj mengadakan Islamic Book Fair, yaitu menyelenggarakan pameran buku dan CD Isla serta berbagai kegiatan yang diisi oleh para Mubaligh dan Cendikiawan muslim Indonesia, berikut ini beberapa kegiatan yang diselenggarakan :



MINGGU 25 MEI - KAMIS 29 MEI.

PEKAN ISRA MI'RAJ & ISLAMIC BOOK FAIR

1. MINGGU, 25 MEI 2014

07.00-08-30
MPAP - Majlis Pengajian Ahad Pagi
Potret Keluarga dalam Al-Quran
Ustadz Budi Ashari Lc
08.30-09.00
Forum Konsultasi Jamaah 
di Pojok Ustadz 
09.00-12.00
Kajian Islam tematik
13.00-15.00
Kuliah Umum KPJ 
Bahas Managemen: saat sakit, saat sakaratul maut, saat kematian dan pasca kematian.
Ustadz H. Rusmono Hy

2. SENIN, 26 Mei 2014
08.30-11.30 
Ummahat bersama Ustadzah Jubaidah 
12.00 -12.30 
Kultum Ba'da Zhuhur 
12.30 -14.00 
Bedah Buku Terapi Sholat Bahagia
12.30 - 14.30 
Donor Darah di Ruang Pendidikan 
14.00 - 17.00 
Bedah Buku Kewarisan 
Ust Hendra, Lc dan Syarifudin Lc 
17.00 - 18.00 
Simaan Qur'an Dan Buka Puasa
19.30 - 21.30 
Dialog Negeri Tanpa Ayah 
Ust Ayah Irwan 
21.30 - 23.30 
Detik Detik Penghancuran Keluarga 
Ust Iwan Zanuar

3. SELASA, 27 Mei 2014
02.30 - 04.00 
Qiyamulail, Imam: Ust Abd Hafidz Lc 
05.00 - 06.00 
Kultum Shubuh: KH Abdulllah Gymnastiar (AA Gym) 
09.00 - 12.00 
Tabligh Akbar: Ust Yusuf Mansur 
13.00- 17.00 
Talk Show Remaja & Perkembangan oleh Ust Deka A Latief
08.00 - 17.00 
Pendalaman Terapi Sholat Bahagia , Oleh Prof Dr Moh Ali Azis M.Ag 
19.00 - 21.00 
Pemuda Islam Indonesia: H. Adiyaksa Daud

4. RABU, 28 Mei 2014
09.00 - 12.00 
Pengajian gabungan ibu2 Pondok Indah(Study Al-Hilal)
19.00 - 22.00 
Berniaga Tanpa Riba: Ust Abd Aziz 

5. KAMIS, 29 Mei 2014
08.00-15.00, 
SEMINAR Halal Haram Obat & Makanan 
Pembicara : Prof, DR. Sidik, Apt, Prof. DR. hasanuddin AF, MA, Prof. DR. dr. Venny Hadju, Jerry D. Gray, dr. Agus Rahmadi. 
Infaq Rp. 300.000,- Fasilitas : Makalah, Makan Siang, Sertifikat.
Daftar 081386008273.info lengkap ww.masjidrayapondokindah.org

15.30 - 17.00 
Tabligh Akbar Menyikapi Rahasia Langit & Bumi: Ust Bahtiar Natsir Lc 

Yuuk sahabat2ku.. 
kita hadir utk menyambung silaturahim & menikmati SANTAPAN RUHANI yg Insya Allah akan menambah kebahagiaan kita hidup di dunia, akhirat & bebas neraka.

Ajak keluarga, saudara, juga BC serta sahabat-sahabat yaa..

Tim Pelaksana: GEMA MRPI & AQL

Mengenal Biografi KH Ahmad Sahal Mahfudh

Kyai Ahmad Sahal Mahfudh terlahir dengan nama Muhammad Ahmad Sahal bin Mahfudz bin Abd Salam Alhajaini dari pasangan Kyai Mahfudz bin Abd Salam Alhafidz dan Hj Badi’ah. Ia lahir di Desa Kajen, Margoyoso Pati pada tanggal 17 Desember 1937. Kyai Sahal merupakan anak ketiga dari enam bersaudara.
Dari lahir, ia sudah hidup di pesantren, dibesarkan dalam lingkungan pesantren dan mengabdi di pesantren. Pada tahun 1968 Kyai Sahal menikah dengan Hj Nafisah binti KH Abdul Fatah Hasyim, Pengasuh Pesantren Fathimiyah Tambak Beras Jombang dan memiliki putra bernama Abdul Ghofar Rozin.
Dedikasinya kepada pesantren, masyarakat, dan ilmu fikih tidak pernah diragukan. Ia menguatkan tradisi dengan ketundukan mutlak pada ketentuan hukum dalam kitab-kitab fiqih ditambah keserasian dengan akhlak yang diajarkan dari ulama tradisional. Dalam istilah pesantren semangat tafaqquh (memperdalam pengetahuan hukum agama) dan semangat tawarru’ (bermoral luhur).
Minat baca Kyai Sahal sangat tinggi. Terbukti beliau punya koleksi 1.800 buku di rumahnya. Meskipun orang pesantren,  bacaannya cukup beragam seperti tentang psikologi hingga novel detektif. Alhasil, belum genap berusia 40 tahun, dirinya telah menunjukkan kepintarannya dalam forum fiqih. Dan pada berbagai sidang Bahtsu Al-Masail tiga bulanan yang diadakan Syuriah NU Jawa Tengah, beliau sudah aktif di dalamnya.
Kyai Sahal adalah pemimpin Pesantren Maslakul Huda Putra sejak tahun 1963. Pesantren di Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah, ini didirikan oleh ayahnya, KH Mahfudz Salam, tahun 1910. Sebagai pemimpin pesantren, Kyai Sahal dikenal sebagai pendobrak pemikiran tradisional di kalangan NU. Sikapnya yang menonjol ialah mendorong kemandirian dengan memajukan kehidupan masyarakat di sekitar pesantrennya melalui pengembangan pendidikan, ekonomi dan kesehatan.
Ia pun pernah bergabung dengan sejumlah institusi salahs satunya yang bergerak dalam bidang pendidikan, yaitu menjadi anggota BPPN3 selama dua periode dari tahun 1993-2003.
Ia juga pernah dianugerahi gelar Doktor Kehormatan (Doctor Honoris Causa) dalam bidang pengembangan ilmu fiqh serta pengembangan pesantren dan masyarakat pada 18 Juni 2003 di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Dalam organisasi Kyai Sahal pernah menjabat sebagai Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (1999-2009), Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) masa bakti 2000-2010, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) masa bakti 2005-2010. Pada 26 November 1999, untuk pertama kalinya dia dipercaya menjadi Rais Aam Syuriah PB NU, mengetuai lembaga yang menentukan arah dan kebijaksanaan organisasi kemasyarakatan yang beranggotakan lebih 30 juta orang itu.
KH Sahal yang sebelumnya selama 10 tahun memimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Tengah, juga didaulat menjadi Ketua Umum Dewan Pimpinan MUI pada Juni 2000 sampai tahun 2005. Selain jabatan-jabatan diatas, jabatan lain yang sekarang masih diemban oleh beliau adalah sebagai Rektor INISNU Jepara, Jawa Tengah (1989-sekarang) dan pengasuh Pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati (1963 – Sekarang).
Karya-karya KH MA Sahal Mahfudz
Kyai Sahal adalah seorang pakar fiqih (hukum Islam), yang sejak menjadi santri seolah sudah terprogram untuk menguasai spesifikasi ilmu tertentu yaitu dalam bidang ilmu Ushul Fiqih, Bahasa Arab dan Ilmu Kemasyarakatan. Namun beliau juga mampu memberikan solusi permasalahan umat yang tak hanya terkait dengan tiga bidang tersebut, contohnya dalam bidang kesehatan dan beliau menemukan suatu bagian tersendiri dalam fiqh.
Dalam bidang kesehatan Kyai Sahal mendapat penghargaan dari WHO dengan gagasannya mendirikan taman gizi yang digerakkan para santri untuk menangani anak-anak balita (hampir seperti Posyandu). Selain itu juga mendirikan balai kesehatan yang sekarang berkembang menjadi Rumah Sakit Islam.
Berbicara tentang karya beliau, pada bagian fiqh beliau menulis seperti Al-Tsamarah al-Hajainiyah yang membicarakan masalah fuqaha, al-Barokatu al- Jumu’ah ini berbicara tentang gramatika Arab. Sedangkan karya Kyai Sahal yang berbentuk tulisan lainnya adalah:
  • Buku (kumpulan makalah yang diterbitkan):
  1. Thariqatal-Hushul ila Ghayahal-Ushul, (Surabaya: Diantarna, 2000)
  2. Pesantren Mencari Makna, (Jakarta: Pustaka Ciganjur, 1999)
  3. Al-Bayan al-Mulamma’ ‘an Alfdz al-Lumd”, (Semarang: Thoha Putra, 1999)
  4. Telaah Fikih Sosial, Dialog dengan KH. MA. Sahal Mahfudh, (Semarang: Suara Merdeka, 1997)
  5. Nuansa Fiqh Sosial (Yogyakarta: LKiS, 1994)
  6. Ensiklopedi Ijma’ (terjemahan bersama KH. Mustofa Bisri dari kitab Mausu’ah al-Ij ma’). (Jakarta; Pustaka Firdaus, 1987).
  7. Al-Tsamarah al-Hajainiyah, I960 (Nurussalam, t.t)
  8. Luma’ al-Hikmah ila Musalsalat al-Muhimmat, (Diktat Pesantren Maslakul Huda, Pati).
  9. Al-Faraid al-Ajibah, 1959 (Diktat Pesantren Maslakul Huda, Pati)
  • Risalah dan Makalah (tidak diterbitkan):
  1. Tipologi Sumber Day a Manusia Jepara dalam Menghadapi AFTA 2003 (Workshop KKNINISNU Jepara, 29 Pebruari 2003).
  2. Strategi dan Pengembangan SDM bagi Institusi Non-Pemerintah, (Lokakarya Lakpesdam NU, Bogor, 18 April 2000).
  3. Mengubah Pemahaman atas Masyarakat: Meletakkan Paradigma Kebangsaan dalam Perspektif Sosial (Silarurahmi Pemda II Ulama dan Tokoh Masyarakat Purwodadi, 18 Maret 2000).
  4. Pokok-Pokok Pikiran tentang Militer dan Agama (Halaqah Nasional PB NU dan P3M, Malang, 18 April 2000)
  5. Prospek Sarjana Muslim Abad XXI, (Stadium General STAI al-Falah Assuniyah, Jember, 12 September 1998)
  6. Keluarga Maslahah dan Kehidupan Modern, (Seminar Sehari LKKNU, Evaluasi Kemitraan NU-BKKBN, Jakarta, 3 Juni 1998)
  7. Pendidikan Agama dan Pengaruhnya terhadap Penghayatan dan Pengamalan Budi Pekerti, (Sarasehan Peningkatan Moral Warga Negara Berdasarkan Pancasila BP7 Propinsi Jawa Tengah, 19 Juni 1997)
  8. Metode Pembinaan Aliran Sempalan dalam Islam, (Semarang, 11 Desember 1996)
  9. Perpustakaan dan Peningkatan SDM Menurut Visi Islam, (Seminar LP Ma’arif, Jepara, 14 Juli 1996)
  10. Arah Pengembangan Ekonomi dalam Upaya Pemberdayaan Ekonomi Umat, (Seminar Sehari, Jember, 27 Desember 1995)
  11. Pendidikan Pesantren sebagai Suatu Alternatif Pendidikan Nasional, (Seminar Nasional tentang Peranan Lembaga Pendidikan Islam dalam Peningkatan Kualitas SDM Pasca 50 tahun Indonesia Merdeka, Surabaya, 2 Juli 1995)
  12. Peningkatan Penyelenggaraan Ibadah Haji yang Berkualitas, (disampaikan dalam Diskusi Panel, Semarang, 27 Juni 1995)
  13. Pandangan Islam terhadap Wajib Belajar, (Penataran Sosialisasi Wajib belajar 9 Tahun, Semarang 10 Oktober 1994)
  14. Perspektif dan Prospek Madrasah Diniyah, (Surabaya, 16 Mei 1994)
  15. Fiqh Sosial sebagai Alternatif Pemahaman Beragama Masyarakat, (disampaikan dalam kuliah umum IKAHA, Jombang, 28 Desember 1994)
  16. Reorientasi Pemahaman Fiqh, Menyikapi Pergeseran Perilaku Masyarakat, (disampaikan pada Diskusi Dosen Institut Hasyim Asy’ari, Jombang, 27 Desember 1994)
  17. Sebuah Releksi tentang Pesantren, (Pati, 21 Agustus 1993)
  18. Posisi Umat Islam Indonesia dalam Era Demokratisasi dari Sudut Kajian Politis, (Forum Silaturahmi PP Jateng, Semarang, 5 September 1992).
  19. Kepemimpinan Politik yang Berkeadilan dalam Islam, (Halaqah Fiqh Imaniyah, Yogyakarta, 3-5 Nopember 1992)
  20. Peran Ulama dan Pesantren dalam Upaya Peningkatan Derajat Kesehatan Umat, (Sarasehan Opening RSU Sultan Agung, Semarang, 26 Agustus 1992).
  21. Pandangan Islam Terhadap AIDS, (Seminar, Surabaya,1 Desember 1992)
  22. Kata Pengantar dalam buku Quo Vadis NU karya Kacung Marijan, (Pati, 13 Pebruari 1992)
  23. Peranan Agama dalam Pembinaan Gizi dan Kesehatan Keluarga, Pandangan dari Segi Posisi Tokoh Agama, Muallim, dan Pranata Agama, (Muzakarah Nasional, Bogor, 2 Desember 1991)
  24. Mempersiapkan Generasi Muda Islam Potensial, (Siaran Mimbar Agama Islam TVRI, Jakarta, 24 Oktober 1991)
  25. Moral dan Etika dalam Pembangunan, (Seminar Kodam IV, Semarang, 18-19 September 1991)
  26. Pluralitas Gerakan Islam dan Tantangan Indonesia Masa Depan, Perpsketif Sosial Ekonomi, (Seminar di Yogyakarta, 10 Maret 1991)
  27. Islam dan Politik, (Seminar, Kendal, 4 Maret 1989)
  28. Filosofi dan Strategi Pengembangan Masyarakat di Lingkungan NU, (disampaikan dalam Temu Wicara LSM, Kudus, 10 September 1989)
  29. Disiplin dan Ketahanan Nasional, Sebuah Tinjauan dari Ajaran Islam, (Forum MUIII, Kendal, 8 Oktober 1988)
  30. Relevansi Ulumuddiyanah di Pesantren dan Tantangan Masyarakat, (Mudzakarah, P3M, Mranggen, 19-21 September 1988)
  31. Prospek Pesantren dalam Pengembangan Science, (Refreshing Course KPM, Tambak Beras, Jombang 19 Januari 1988)
  32. Ajaran Aswaja dan Kaitannya dengan Sistem Masyarakat, (LKL GP Anshor dan Fatayat, Jepara 12-17 Februari 1988)
  33. AIDS dan Prostisusi dari Dimensi Agama Islam, (Seminar AIDS dan Prostitusi YAASKI, Yogyakarta, 21 Juni 1987)
  34. Sumbangan Wawasan tentang Madrasah dan Ma’arif, (Raker LP Ma’arif, Pati, 21 Desember 1986)
  35. Program KB dan Ulama, (Pati, 27 Oktober 1986)
  36. Hismawati dan Taman Gizi, (Sarasehan gizi antar santriwati,
  37. Administrasi Pembukuan Keuangan Menurut Pandangan Islam, (Latihan Administrasi Pembukuan dan Keuangan bagi TPM, Pan, 8 April 1986)
  38. Pendekatan Pola Pesantren sebagai Salah Satu Alternatif membudayakan NKKBS, (Rapat Konsultasi Nasional Bidang, KB, Jakarta, 23-27 Januari 1984)
  39. Pelaksanaan Pendidikan Kependudukan di Pesantren, (Lokakarya Pendidikan Kependudukan di Pesantren, (Jakarta, 6-8 Januari 1983)
  40. Tanggapan atas Pokok-Pokok Pikiran Pembaharuan Pendidikan Nasional, (27 Nopember 1979)
  41. Peningkatan Sosial Amaliah Islam, (Pekan Orientasi Ulama Khotib, Pati, 21-23 Pebruari 1977)
  42. Intifah al-Wajadain, (Risalah tidak diterbitkan)
  43. Wasmah al-Sibydn ild I’tiqdd ma’ da al-Rahman, (Risalah tidak diterbitkan)
  44. I’dnah al-Ashhdb, 1961 (Risalah tidak diterbitkan)
  45. Faid al-Hija syarah Nail al-Raja dan Nazhdm Safinah al-Naja, 1961 (Risalah tidak diterbitkan)
  46. Al-Tarjamah al-Munbalijah ‘an Qasiidah al-Munfarijah, (Risalah tidak diterbitkan)

Redaktur: Shabra Syatila 

Risma Di Mata PDIP VS Warga Surabaya

Oleh : Ira Oemar
“Surabaya sekarang ini sudah bukan miliknya PDIP lagi, Mbak”, kata seorang teman yang kebetulan menjadi Ketua RW di salah satu kelurahan di wilayah Surabaya Timur, beberapa hari usai Pemilu 2009 lalu. “Sepertinya bukan hanya di Surabaya, Mbak, di Jawa Timur juga”, tambahnya. Teman yang sudah terbiasa jadi petugas KPPS itu membandingkan dengan 2 kali Pemilu pasca reformasi, 1999 dan 2004, dimana PDIP memenangkan mayoritas perolehan suara di banyak TPS, merata di 31 kecamatan se-Surabaya. Tapi kali itu, Pemilu 2009, PDIP mengalami kemerosotan suara sangat signifikan, merata di seluruh wilayah Surabaya. Bahkan, di kantong-kantong basis PDIP di Jawa Timur, fenomena penurunan suara itu tidak hanya terjadi di Dapil Jatim I (Surabaya–Sidoarjo) saja. Beberapa dapil yang selama ini menjadi basispendulang suara PDIP, turun perolehan suaranya, seperti Dapil Jatim VI (Kota Kediri, Kota Blitar, Kabupaten Blitar, Kabupaten Kediri dan Tulungagung) juga mengalami penurunan. Maka, PDIP Surabaya yang selama 2 periode menjadi penguasa mayoritas kursi DPRD Surabaya, sejak 2009 terpaksa mengaku kalah pada Demokrat. PDIP yang pernah menguasai 24 kursi DPRD Kota Surabaya, kini harus puas hanya dengan 8 kursi saja.
13935404631241009190
Salah satu aksi kelompok masyarakat yang menamakan diri GIRAS untuk menunjukkan dukungan pada Bu Risma (foto by Rap Arsy from FB Grup #SaveRisma)
Di tengah kemerosotan suara PDIP, setahun setelahnya di Surabaya akan digelar Pilwali. Bambang DH yang telah 2x masa jabatan menjadi Walikota, masih ingin majulagi dengan alasan periode pertama tidak penuh, hanya melanjutkan kepemimpinan Soenarto Soemoprawiro yang meninggal pada tahun 2002. Sayangnya ambisi Bambang DH terpaksa kandas karena Mahkamah Konsitusi menolak permohonanjudicial review yang diajukannya. Maka dimajukanlah pasangan Saleh Mukadar – Bambang DH. Hanya saja, kalau kedua kader PDIP Surabaya itu yang maju, belum tentu kemenangan didapat, mengingat anjloknya perolehan suara PDIP. Maka harus dicari terobosan baru : menggandeng sosok populer yang dapat diterima warga Surabaya, tak hanya mengandalkan pemilih tradisional PDIP. Maka dipinanglah Tri Rismaharini, Kepala Bapeko Surabaya, yang juga mantan Kepala Dinas Pertamanan, yang cukup populer di kalangan warga Surabaya. Keberadaan Risma sebagai figur yang non partisan, akan mampu memperluas segmen dukungan tak melulu hanya pada pemilih tradisional PDIP.
1393540578485352080
Kasi GIRAS pada Selasa, 25 Pebruari 2014 (foto by Rap Arsy)
Sampai disini bisa dilihat, siapa yang lebih membutuhkan siapa. Apakah Risma yang butuh PDIP karena dia berambisi sekali jadi Walikota? Atau PDIP yang butuh Risma untuk mendongkrak popularitas sekaligus elektabilitas? Dalam jawabannya di Mata Najwa, Risma mengaku saat dicalonkan dulu sebenarnya keluarganya tak setuju dan dia sendiri pun tak menyangka bakal memenangkan Pilwali. Bahkan pernah ditulis di Kompasiana yang kemudian dikutip ke Kompas, bahwa saat itu Bu Risma sempat menghubungi salah satu ulama, minta didoakan agar dirinya tak jadi Walikota. Tapi Tuhan punya rencana lain, pasangan Risma – BDH memenangkan Pilwali.
1393540700536234447
Rakyat Surabaya masih butuh Bu Risma, karena itu mereka tak mau Bu Risma mundur (foto by Rap Arsy)
Baru 100 hari dilantik, Risma digoyang. Tepat 4 bulan menjabat, Risma dilengserkan melalui hak angket yang berujung pada penandatanganan permohonan pencopotan Risma oleh 6 fraksi dari 7 fraksi di DPRD Surabaya – minus PKS – untuk diajukan ke Mahkamah Agung. Tapi sekali lagi Tuhan berkehendak lain. Lagi-lagi Risma selamat, pemakzulan dianulir Mendagri.
Kini, tepat 3 tahun setelah peristiwa pemakzulan yang gagal total itu, salah satu dari duo “sutradara” pemakzulan : Wisnu Sakti Buana (WSB), dilantik menjadi Wakil Walikota, yang akan mendampingi Risma selama 1,5 tahun sisa masa jabatannya. Sekitar 10 hari sebelum pelantikan, WSB ditemani pendahulunya BDH, mulai bersosialisasi kepada sebagian warga Surabaya. “Ini Pak Wisnu adalah pengganti saya, sekarang dia Wawali, ini calon pemimpin Surabaya, biar kenal dan dekat dengan warga,” kata Bambang DH, mantan Walikota Surabaya di hadapan ribuan warga dalam acara Grebek Maulud di Rangkah, Surabaya, Selasa, 14 Januari 2014. Menurut Bambang DH, sebagai kader partai, kinerja Wisnu tidak akan optimal membantu warga jika statusnya hanya sebagai Wakil Walikota. Dalam Pilwali mendatang, BDH optimis PDIP akan merekomendasikan WSB sebagai calon walikota. Dan waktu satu tahun menuju Pilwali, diharapkan Wisnu bisa lebih optimal dalam menjangkau masyarakat sehingga lebih dikenal dan dekat dengan masyarakat.Harap dicatat, pernyataan itu bahkan sudah disampaikan 10 hari sebelum Wisnu dilantik.
1393540896972824342
Salah satu aksi dukungan terhadap Bu Risma di Balaikota Surabaya pekan lalu. Dari segenap lapisan masyarakt ikut serta. (foto by Bakwan Ku Pangsit Ku)
Apa pendapat WSB sendiri? Ditemui di saat dan lokasi acara yang sama, WSB mengaku akan menjalankan amanat partai jika pada pilkada 2015 dia dicalonkan sebagai Walikota menggantikan Tri Rismaharini. WSB yang juga Ketua DPC PDIP Surabaya itu mengaku untuk saat ini dirinya fokus pada pemenangan pemilu 2014. Dia sendiri optimis PDIP akan kembali merebut kemenangan di Surabaya dengan minimal meraih 40% suara. “Kita akan konsentrasi pada pertempuran akbar tahun ini, ini adalah tahun penentuan, perkara pilkada nanti kita ndak mau konsentrasi kita terpecah,” ujarnya pada suarasurabaya.net. Sekali lagi perlu dicatat : menjadi Wawali hanya sasaran antara. WSB justru akan lebih fokus pada pemenangan partainya pada Pileg 9 April nanti, sehingga PDIP dapat kembali berjaya di Surabaya. Ujung-ujungnya WSB akan mendapat reward dicalonkan menjadi Walikota Surabaya. Ingat, ancang-ancang menjadi walikota bahkan sudah disampaikan 10 hari sebelum resmi dilantik jadi Wawali. Dan fokus konsentrasi Wisnu saat ini pada bagaimana memenangkan partainya pada Pileg 2014, BUKAN membenahi Surabaya.
139354110886535999
Berbagai elemen dan kelompok pendukung gerakan moral #SaveRisma rapat koordinasi dadakan untuk merapatkan barisan di Taman Bungkul, Minggu pagi lalu (foto by Muhyi Bcp)
Entah apa hubungannya, di sela-sela acara Gerebek Maulid pada 10 Januari lalu, tiba-tiba BDH mengundhat-undhat (bahasa Jawa : mengungkit-ungkit/menggugat) soal dana kampanye Risma. BDH menilai Risma mulai melupakan komitmen awal saat dirinya diusung PDIP pada Pilwali 2010. Padahal, kata BDH saat itu Risma tak keluar uang sepeserpun ketika pilkada karena semua dibiayai secara gotong royong dari seluruh kader partai. BDH bahkan menceritakan Risma sempat menghadap Ketua DPC PDIP Surabaya yang dijabat WSB, Risma menyampaikan dirinya mendapat rekomendasi sebagai calon walikota, padahal hanya punya uang Rp. 70 juta dan mobil kijang.
Disinilah tampak jelas perbedaan persepsi dan sudut pandang antara Risma yang sama sekali bukan orang politik, dengan BDH atau WSB yang memang kader parpol. Sebagai seorang profesional dan birokrat karir, wajar jika Risma kaget dirinya dipinang parpol dan mendapat rekomendasi maju jadi Cawali. Sudah bukan rahasia lagi bahwa calon yang akan maju berlaga di Pilkada – apalagi kalau bukan kader parpol –akan diminta menyetorkan sejumlah uang mahar. Jadi, wajar jika Risma dengan kejujurannya menyampaikan bahwa harta yang dimilikinya hanyalah tabungan Rp. 70 juta dan mobil kijang. Artinya sejak awal Risma berusaha terbuka menyampaikan bahwa dirinya tak punya modal materi untuk maju menjadi Walikota Surabaya.
1393541271367564300
Seruan yang sempat muncul menyikapi undhat-undhatan Bambang DH soal dana kampanye Bu Risma (foto from FB Grup #SaveRisma)
Sebaliknya, BDH dengan kacamata politisi-nya, berpandangan pragmatis, khas para politisi parpol. Jika dulu diusung parpol, apalagi kalau tak keluar sepeserpun uang untuk proses Pilkada, maka harus “tahu diri” terhadap partai. Rupanya BDH “menagih” komitmen Risma terhadap partai pengusung. Padahal, sebagai negawaran, seharusnya berpegang pada prinsip : “Loyalitas saya pada partai berakhir ketika loyalitas saya pada negara dimulai”. Seperti juga kata BJ. Habibie di acara Mata Najwa, seorang pemimpin setelah dia dipilih haruslah melepaskan semua atribut partainya, melepaskan semua jabatan di parpol dan menjadi milik seluruh rakyat, bukan lagi berjuang untuk parpol. Itulah yang dilakukan Risma, sejak dulu dia sudah terbiasa menjadi abdi negara (PNS) yang tak boleh partisan. Apalagi sejak menjadi Walikota Surabaya, maka dia menjadi pelayan warga Surabaya, berkomitmen pada rakyat pemilihnya, bukan pada partai pengusungnya.
1393541446564674279
Aksi di Taman Bungkul, Minggu 23 Pebruari 2014 (foto by Pratama W Budiarta)
Dari sudut pandang masing-masing, tentu saja Risma salah dimata BDH yang kader dan politisi PDIP. Dimata seorang politisi yang bukan negarawan, maka Risma adalah sosok yang tak tahu diri akan komitmennya pada parpol pengusung.Sekali lagi ini soal pragmatisme politik yang menggejala di negeri ini sejak pasca reformasi. Pilkada tak lebih sekedar ajang politik transaksional antara tokoh yang diusung dan parpol pengusungnya. Risma telah menyalahi konsensus tak tertulis yang kaprah terjadi di tubuh parpol. Politisi PDIP Jatim, Kusnadi bahkan menuduh Risma berkhianat pada PDIP. Buktinya pada saat BDH maju sebagai CagubJatimRisma tak sedikitpun memberi dukungan apalagi ikut berjuang memenangkan BDH. Nah, sekali lagi ini beda sudut pandang politisi versus birokrat pelayan rakyat. Politisi parpol selalu bisa disuruh-suruh parpol, dengan dalih “menjalankan tugas partai” untuk berkampanye bagi rekan separtainya. Risma tidak, dia menjalankan tugasnya sebagai Walikota, tak ada waktu untuk cuti berkampanye bagi BDH. Lagi pula, jika nama BDH melekat di hati rakyat, tentunya dia akan dipilih. Faktanya, perolehan suara BDH sangat tidak signifikan dalam Pilgub Jatim. Jangankan di seantero Jatim, bahkan di Surabaya yang pernah dipimpinnya pun BDH kalah telak!
1393541587701204334
Warga Surabaya menandatangani selembar kain putih sebagai bentuk dukungan pada Ibu Risma untuk tetap menjadi Walikota Surabaya (foto by Pratama W Budiarta)
Bagaimana di mata warga Surabaya? Mayoritas warga Surabaya sudah apatis dengan partai politik dan antipati terhadap politisi. Sejak pasca reformasi, berbagai akrobat dan intrik politik di DPRD Surabaya memang memuakkan. Jadi, bagi warga Surabaya sendiri tak masalah meski Bu Risma dianggap tak tahu etika politik, sebab yang mereka butuhkan adalah pemimpin yang punya kepedulian pada kesejahteraan rakyatnya dan punya komitmen pada penataan kota yang lebih baik, lebih nyaman ditinggali dan aman. Warga Surabaya sudah melihat hasilkerja nyata Bu Risma.Karena itu, pernyataan ngundhat-undhat Bambang DH itu justru memicu kemarahan warga Surabaya dan makin menguatkan tekad untuk mengusung Bu Risma jadi Wakilota lewat jalur independen.
13935416832034762728
Meski harus antri, warga siap tanda tangan sebagai bentuk kecintaan dan dukungan pada Walikota yang dianggap berhasil mengubah wajah Surabaya (foto by Pratama W Budiarta)
ISSU RISMA MUNDUR
Sekitar 2 pekan setelah pernyataan-pernyataan BDH dan WSB di atas dan setelah WSB dilantik jadi Wakil Walikota, di penghujung Januari 2014 beredar issu Bu Risma akan mundurJelas, issu itu baru merebak setelah WSB dilantik dan Risma mempersoalkan prosedur pengajuan WSB sebagai cawali yang menurut Panlih DPRD Surabaya tidak prosedural. Bahkan Mendagri Gamawan Fauzi mengatakan bahwasecara peraturan dan perundang-undangan, seharusnya Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang mengusulkan nama Wisnu Sakti Buana sebagai calon wakilnya kepada DPRD pada saat proses pemilihan Wakil Walikota, sebagaimana dikutip Kompas.com. “Mekanismenya, wali kota mengusulkan 2 nama ke DPRD kemudian dari DPRD ke Gubernur, lalu Gubernur ke saya,” ujar Gamawan di Gedung Kemendagri, Jakarta Pusat, Jumat, 21 Pebruari 2014.
13935418351777406707
foto by Pratama W Budiarta
Jelas, kemunduran Risma dipicu oleh ketidaknyamanan harus berpasangan dengan seorang yang dulu pernah memakzulkannya. Namun apa reaksi PDIP? Mereka – dari PDIP Surabaya, PDIP Jatim sampai DPP PDIP – seakan kompak menafikan faktor ketidakcocokan Risma dengan WSB. Pernyataan-pernyataan elite politik PDIP di berbagai media massa, justru menuding pihak-pihak lain yang jadi penyebab Risma ingin mundur. Sampai-sampai seorang komentator di Kompas.com menulis kurang lebih begini : “Coba saja ibu Mega suruh berpasangan sama orangnya PDI Surjadi yang dulu pernah melengserkannya, mau enggak?”. Ya, sebagai sesama perempuan dan pernah mengalami upaya disingkirkan, Megawati seharusnya bisa berempati pada kondisi Risma.
1393541943902243570
Bukan hanya masyarakat, mahasiswa pun tak mau ketinggalan mendukung Bu Risma. Keluarga Mahasiswa ITS melakukan longmarch dengan bersepeda dari kampus ITS menuju Balaikota Surabaya (foto by R Panji Bambang Kuntjoro)
Tak usah mundur terlalu jauh sampai ke masa Orba dimana Mega disingkirkan PDI kubu Surjadi. Mari kita tengok peristiwa Maret 2003, ketika Mega merasa ditelikung SBY yang diam-diam ternyata akan mencalonkan diri jadi capres. Itu baru mau akan maju jadi pesaing di Pilpres lho, bukan melengserkan, Megawati sudah sedemikian marahnya pada SBY. Bahkan Taufik Kiemas waktu itu sempat melontarkan ejekan pada SBY yang akhirnya membuat SBY mundur dari Kabinet dan pasca peristiwa itu justru membuat elektabilitas SBY naik. Sejarah kemudian mencatat, hubungan Mega dengan SBY bak perseteruan dua musuh bebuyutan. Mega tak pernah mau bersalaman dengan SBY, menoleh pun tidak meski berada dalam satu forum acara yang sama. Mega baru mau menerima salaman SBY 10 tahun kemudian, yaitu pada pemakaman Taufik Kiemas, tahun 2013. Jadi, cobalah Megawati sedikit berempati, bagaimana sulitnya bersanding seperahu dengan orang yang jelas-jelas pernah menjadi dalang “penikaman” dirinya. Tidak nyaman sekali bukan?
1393542121953179274
KM ITS berhasil menemui Bu Risma di Balaikota (foto by R Panji Bambang Kuntjoro)
Pernyataan-pernyataan elite PDIP seperti Tjahjo Kumolo dan Puan Maharani justru menjadi blunder yang tidak menyelesaikan masalah. Puan mengatakan, sebaiknya Risma tak berbicara keluar partai, jika ada yang ingin disampaikan pada Bu Mega, sampaikan saja pada Puan nanti akan diteruskan kepada Ketua Umum (Megawati). Ini justru menunjukkan bahwa Risma memang tak semudah itu bertemu – apalagi curhat langsung – dengan Megawati. Masalah sudah berlarut-larut pun Mega tetap duduk di menara gading dan tak turun tangan. Pembelaan-pembelaan politisi PDIP terhadap Wisnu, justru mengesankan WSB jauh lebih dipertahankan ketimbang Risma. Banyak kalangan, termasuk pengamat politik, menilai PDIP lebih memilih kehilangan Risma ketimbang WSB. Tak sedikitpun ada upaya PDIP – yang selalu mengusung jargon partai wong cilik – untuk menengok ke Surabaya dan melakukan jajak pendapat langsung kepada warga Surabaya, apakah mereka lebih menghendaki WSB atau Risma. Padahal, bagi partai sebesar PDIP, semestinya punya “intel politik” yang bisa menyusup ke komunitas-komunitas dukungan terhadap Risma, untuk mendengar langsung kegeraman warga Surabaya. Bagi arek-arek Suroboyo, peduli amat dengan politik, “atiku loro, ibukku dilarani, tak bales sing ngelarani ibukku” (Hatiku sakit, Ibuku disakiti, akan kubalas yang menyakiti Ibuku). Makabersiaplah PDIP menerimapunishment politik dari warga Surabaya pada Pileg yang tinggal 40 hari lagi.
1393542252354231283
Selebaran woro-woro untuk aksi mendukung Bu Risma oleh mahasiswa ITS. Mereka menyebut para pengganggu merecoki Bu Risma yang sedang bekerja (foto by R Panji Bambang Kuntjoro)
Kemarin, Kamis, 27 Pebruari 2014, beberapa elemen masyarakat memaksa menemui Bu Risma. Beliau sedang ada kegiatan di Jambangan, Surabaya Barat. Arek-arek Suroboyo yang sangat ingin bertemu Walikotanya siap menunggu sampai Bu Risma kembali ke Balaikota. Kepada Bu Risma warga Surabaya memohon dengan sangat agar jangan mundur. Seseorang melukiskan suasana aksi sebagai berikut : suasana haru yang tak biasa dalam unjuk rasa… Polisi, wartawan dan semua yang ada di balaikota merasakan kesedihan yang menganga… Begitu lama kita merindukan sosok pemimpin yang amanah… Bu risma tak perlu dukungan kita, tapi kita yang masih membutuhkan Bu Risma… hanya satu kata pintanya “saya istikharohkan dulu”… (Ferry Riawan). Bahkan sekelompok ibu-ibu majelis taklim memohon-mohon agar Bu Risma tetap memimpin Surabaya, “anakku sing gak iso sekolah disekolahno karo Bu Risma” (anakku yang tak bisa sekolah disekolahkan oleh Bu Risma).
13935424101771490180
Warga swadaya memasang atribut apapun di baju/jaket yang penting ada tulisan Save Risma (foto by Iwan Hadi)
Warga Surabaya paham, yang membuat Ibu Risma tak nyaman adalah keberadaanWSB. Nah, masihkah PDIP akan tutup mata dan telinga atas kondisi riill aspirasimasyarakat Surabaya yang menolak Wisnu dan mempertahankan Risma? Akankah PDIP yang katanya partainya wong cilik berbalik jadi partainya wong licikUpaya PDIP mempertahankan BDH sebagai caleg meski telah ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi japung dan kini kasusnya sudah dilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, serta upaya untuk mempertahankan WSB, makin menunjukkan bahwa PDIP berkhianat atas slogannya sendiri, PDIP menutup telinga atas aspirasi rakyat. Semoga belum terlambat bagi PDIP untuk menyadari bahwa kebencian dan antipati warga Surabaya sudah mencapai puncaknya.
Catatan : foto-foto diambil dari FB Grup #SaveRisma

Sumber 

Inilah Daftar Caleg Muslim Seluruh Parpol DI DKI JAKARTA

Pada tulisan sebelumnya kami sudah menyampaikan tentang data lengkap Caleg DPR RI periode 2014-2019, Dari data yang dilansir oleh KPU , pada kesempatan lanjutan ini kami perlu menyampaikan yang fokus menyoroti latar belakang Agama dari caleg tersebut. 


Dari daftar yang dirilis ternyata hanya 3 partai yang 100% calegnya adalah muslim, yaitu PKS, PPP dan PBB.

Partai PKB dan PAN yang sering disebut sebut termasuk partai Islam karena kelahirannya dibidani oleh tokoh ormas Islam, untuk Caleg daerah pemilihan wilayah DKI jakarta, PAN menempatkan sekitar 85-90 % Caleg Muslim sedangkan PKB menempatkan hanya menempatkan 81 % calegnya.
Untuk PAN di DAPIL  I (Jakarta Timur ) dan II ( Luar Negeri, Jakarta Pusat dan jakarta Selatan) menempatkan caleg muslimnya 100 %, hanya di DAPIL III ( Jakarta Barat, Jakarta Utara dan Kepulauan seribu) menempatkan 2 Caleg non muslim ( Yosef Pagar Fernando/ dan Jerremy Thomas/Katholik(artis)) yang non muslim dan 1 caleg yang identitas agamanya tidak tercantum ( Kanti W Janis ), sedangkan PKB , hanya Dapil II ( Luar negeri, Jakarta Pusat dan Selatan) yang caleg muslimnya 100%, sedangkan di Dapil I menempatkan 1 Caleg non muslim, DR A. Shepard Supit yang memiliki riwayat organisasi sebagai 
Ketua Persekutuan Gereja –gereja di Indonesia ( PGI) Jakarta dan juga Ketua Umum  Himpunan Warga gereja Indonesia dan dari riwayat pekerjaan yang dicantumkan Pendeta atau Gembala Sidang di Gereja Bethel Indonesia. sedangkan di DAPIL III ( Jakarta Utara, Kepulauan Seribu, Jakarta Barat) PKB hanya menempatkan 3 Caleg (Muslim) 2 Caleg Identitas tidak dicantumkan (Windi Damayanti Rahayu )  atau tidak bersedia dipublikasikan (Adam Gllen Dolly) dari 8 caleg yang ada. dan ada 3 Caleg non muslim ,:1.Albertus Soegeng SH / Katholik Bendahara Umum DKN Garda Bangsa PKB, 2.Pdt Ir Suyapto Tandyawasesa M.th/ Kristen yang memiliki riwayat organisasi bendahara umum persatuan gereja indonesia, Ketua Intelegensia Kristen Indonesia, ketua PARTAI DAMAI SEJAHTERA dll, 3. Sudarman Lim / Budha yang memiliki riwayat organisasi Ketua Umum Yayasan Lestari Budaya Tionghoa TMII
Pada saat googling untuk menelusuri latar belakang agama dari para caleg, karena adanya beberapa caleg dari data yang dilansir KPU ada yang tidak mencantumkan agamanya dan ada yang tidak mengizinkan biodatanya dipublis, hasil Googling,  kami menemukan postingan terkait daftar caleg Muslim untuk wilayah DKI JAKARTA yang dipostingkan di Kompasiana, tetapi kita kami coba mengaksesnya ternyata postingan tersebut sudah dihapus oleh Admin kompasiana. maka kami coba memanfaatkan "CHACE" sarana yang disediakan google untuk mengetahui isi postingan tersebut. Alhamdulillah bisa mengaksesnya  dan akhirnya diketahui bahwa daftar tersebut adalah postingan dari Muhamad Adrin ( www.kompasiana.com/m.adrin) di kompasiana yang dipostingkan pada 23 February 2014 | 18:57 yang baru dilihat 2 orang. 


 
DAFTAR CALEG DPR RI Periode 2014-2019 MUSLIM DAPIL PROVINSI DKI JAKARTA UNTUK SELURUH PARPOL
1. Partai Nasdem (Total 16 dari 21 : 76% muslim)
a. Dapil I (Jakarta TImur) : 4 dari 6 (67%)
1. Taufik Basari
3. Salim Syihab
4. Bambang S. Syukur
6. Faisal Yusuf
b. Dapil II (Luar Negeri, Jakpus, Jaksel) : 6 dari 7 (85%)
1. Diennaryati Tjokrosuprihartono
2. Latifa Marina Al Anshori
3. Pramu Risanto
4. Muhammad Rais
6. Wiwik Sri Widiarty
7. Nurul Husnah Fauziah
c. Dapil III (Kep Seribu, Jakbar, Jakut) : 6 dari 8 (75%
1. Ahmad Sahroni
3. Jane Shalimar
5. Yusherman
6. Mulfida Muchtar
7. Sri Nurmanti
8. Ami Verita
2. Partai Kebangkitan Bangsa (Total 17 dari 21: 81% muslim)
a. Dapil I (Jakarta Timur) : 5 dari 6 (83%)
1. Yusuf Mujenih
2. Saleh
3. Hesty Pudjiastuti
5. Zulkarnain
6. Yuli Agus Fristia
b. Dapil II (Luar Negeri, Jakpus, Jaksel) : 7 dari 7 (100%)
1. Abdul Wahid Maktub
2. Harun Sinuraya
3. Muzaenah Zein
4. Tuty Alawia Ishak
5. Moh. Miftah Farid
6. Lucluck Maxnoen
7. Mohammad Rosul
c. Dapil III (Kep Seribu, Jakbar, Jakut) : 3-5 dari 8 (37,5%-63%)
3. Lina Adlina
4. Sunarto
6. Windi Damayanti Rahayu (Tidak tercantum)
7. Adam Gllen Dolly ( tidak bersedia dipublikasikan)
8. Heri Kartika
3. Partai Keadilan Sejahtera (Total 18 dari 18 : 100% muslim)
a. Dapil I (Jakarta Timur) : 6 dari 6 (100%)
1. Ahmad Zainuddin
2. Iie Sumirat Sundana
3. Maria Ahdiati
4. Abdul Aziz Abdul Rauf
5. Nurmansyah Lubis
6. Lulu Masluchah
b. Dapil II (Luar Negeri, Jakpus, Jaksel) : 6 dari 6 (100%)
1. Hidayat Nur Wahid
2. Dani Anwar
3. Nurjanah Hulwani
4. Taufik Ramlan Wijaya
5. Igo Ilham
6. Siti Hafidah Ayub Asnawi
c. Dapil III (Kep Seribu, Jakbar, Jakut) : 6 dari 6 (100%)
1. Achmad Rilyadi
2. Adang Daradjatun
3. Wirianingsih
4. Muhammad Idrus
5. Hasan Kiat
6. Solikhah
4. PDI Perjuangan (Total 10 dari 21 : 48% muslim)
a. Dapil I (Jakarta Timur) : 4 dari 6 (67%)
1. Wiryanti Sukamdani
2. R. Adang Ruchiatna Puradiredja
4. Rasyidi HY
6. Nurcahyo Riswanto
b. Dapil II (Luar Negeri, Jakpus, Jaksel) : 3 dari 7 (43%)
2. Amendi Nasution
4. Herman Tji’din
5. Syahriz Ferdian Aziz
c. Dapil III (Kep Seribu, Jakbar, Jakut) : 3 dari 8 (37%)
3. S.F. Agustiani Tio Fredelina Sitorus
6. Fadjar Panjaitan
8. Risa Bhinekawati
5. Partai Golkar (Total 18 dari 21 : 85% muslim)
a. Dapil I (Jakarta Timur) : 5 dari 6 (83%)
1. Bambang Wiyogo
2. Muhammad Fahreza Sinambela
3. Liliek Nurlinda Diyani
5. Baskara Harimukti Sukarya
6. Henny Ida Astuti
b. Dapil II (Luar Negeri, Jakpus, Jaksel) : 7 dari 7 (100%)
1. Fayakhun Andriadi
2. Retno Susilowati Amir
3. DM. Jusuf Djuhir
4. Egy Massaidah
5. Musthafa Bakri
6. Chandra Kusuma Dewi
7. Yovita Lasti Handini
c. Dapil III (Kep Seribu, Jakbar, Jakut) : 6 dari 8 (75%)
1. Tantowi Yahya
2. M. Ade Surapriatna
3. Sri Woerjaningsih
4. Arman Amir
5. Baharuddin Andi Picunang
7. Tintin Surtini
6. Partai Gerindra (Total 12 dari 21 : 57%)
a. Dapil I (Jakarta Timur) : 3 dari 6 (50%)
1. Asril Hamzah Tanjung
3. Nurana Diah Dhayanti
4. Andrea Walkers
b. Dapil II (Luar Negeri, Jakpus, Jaksel) : 5 dari 7 (71%)
1. Biem Triani Benjamin
4. Yora Lovita E. Haloho
5. M. Tamir Mahmud
6. Irawan Ronodipuro
7. Siti Sarifah Mustikarini Sutalaksana
c. Dapil III (Kep Seribu, Jakbar, Jakut) : 4 dari 8 (50%)
2. M.S. Ralie Siregar
3. Dahlia Bachtiar
6. Nur Indra Yani
8. Abdul Salim Hutajulu
7. Partai Demokrat (Tot 16 dari 21 : 76% muslim)
a. Dapil I (Jakarta Timur) : 4 dari 6 (67%)
1. Hayono Isman
2. Tri Yulianto
3. Dwi Astuti Wulandari
6. Luki Widiastuti
b. Dapil II (Luar Negeri, Jakpus, Jaksel) : 6 dari 7 (85%)
1. Melani Leimena Suharli
3. Fadjar Sampurno
4. Jenny Rachman
5. Darmizal MS
6. Lukmanul Hakim
7. Hasnaeni
c. Dapil III (Kep Seribu, Jakbar, Jakut) : 6 dari 8 (75%)
1. Marzuki Alie
2. Vera Febyanthy
4. Muhammad Farhat Abbas
5. Mexicana Leo Hananto Wibowo
7. Andi Nurpati
8. Julianto Hendro Cahyono
8. Partai Amanat Nasional (Total 18-19 dari 21 : 85-90% muslim)
a. Dapil I (Jakarta Timur) : 6 dari 6 (100%)
1. Didik J. Rachbini
2. Andi Anzhar Cakra Wijaya
3. Naomi Dailami
4. Aulia Prima Kurniawan
5. Chandra Nursida
6. Anshori
b. Dapil II (Luar Negeri, Jakpus, Jaksel) : 7 dari 7 (100%)
1. Ichwan Ishak
2. Damayanti Hakim Tohir
3. Dwiki Darmawan
4. Firman Abadi
5. Elizabeth
6. Aisyah
7. Yoga Dirga Cahya
c. Dapil III (Kep Seribu, Jakbar, Jakut) : 5-6 dari 8 (62,5 – 75%)
1. Didi Supriyanto
2. Raslinna Rasidin
3. Ida Royani
4. Bangun Tangke Padang
5. Kanti W Janis (tidak mencamtumkan)
6. Iqbal Farabi
9. Partai Persatuan Pembangunan (Total 21 dari 21 : 100% muslim)
a. Dapil I (Jakarta Timur) : 6 dari 6 (100%)
1. Hizbiyah Rochim
2. Mansyur Kardi
3. Agustitin Setyobudi
4. Selvia
5. Osby Verbo
6. Achmad Fauzan
b. Dapil II (Luar Negeri, Jakpus, Jaksel) : 7 dari 7 (100%)
1. Okky Asokawati
2. Ridho Kamaludin
3. Lena Maryana
4. Kivlan Zen
5. Usni Hasanudin
6. Ridha Fidyana
7. Mohammad Rusli
c. Dapil III (Kep Seribu, Jakbar, Jakut) : 8 dari 8 (100%)
1. Achmad Dimyati Natakusumah
2. Abdul Aziz
3. Nuraini
4. Nasrullah
5. Ison Basyuni
6. Filivhiena Andalusia Faisol
7. Nurlan HN
8. Kantjana Indrishwari
10. Partai Hanura (Total 18 dari 21 : 86%)
a. Dapil I (Jakarta Timur) : 5 dari 6 (83%)
1. Wijaya Kusumo Subroto
2. Mulyano
3. Ida Hastuti Listiantini
4. Sutrisno
6. Hana Fitriana
b. Dapil II (Luar Negeri, Jakpus, Jaksel) : 7 dari 7 (100%)
1. Bambang Marsono
2. Andi Saiful Haq
3. Siti Chatidjah
4. Charletty Choesyana
5. Tajuddien Noor Bolimalakalu
6. Chairiyah
7. Tohir
c. Dapil III (Kep Seribu, Jakbar, Jakut) : 6 dari 8 (75%)
1. Karta Brata Lesmana
2. Hardjadinata
3. Dewi Andriani Arma
4. Sarbini
5. David
6. Yayah Yarotul Salamah
11. Partai Bulan Bintang (Total 21 dari 21 : 100% muslim)
a. Dapil I (Jakarta Timur) : 6 dari 6 (100%)
1. Sjamsul Hilataha
2. Dindin Sjafrudin
3. Sri Kusharyati
4. Darwono
5. Bambang Widyatomo
6. Linda Meri
b. Dapil II (Luar Negeri, Jakpus, Jaksel) : 7 dari 7 (100%)
1. Fathurrahman Mahfudz
2. Tri Natalie Read
3. Wasal Falah
4. Syofyan Saad
5. M. Nur Caniago
6. Fikriah
7. Sisca Devianti
c. Dapil III (Kep Seribu, Jakbar, Jakut) : 8 dari 8 (100%)
1. Muhammad Gatot Saptono
2. Zaenudin
3. Ummul Barqi
4. Agus Handoko
5. Damanhuri
6. Nurlaila
7. Sri Suyatni
8. Auza Djamil Hakim
12. Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (Total 14 dari 21 : 67% muslim)
a. Dapil I (Jakarta Timur) : 4 dari 6 (67%)
2. Risa Amtiana Monika
4. Amir Tamba
5. Nurul Huda
6. Mia Oktavia
b. Dapil II (Luar Negeri, Jakpus, Jaksel) : 6 dari 7 (85%)
1. Daniel Hutapea
2. Pandji Hadinoto
3. Camellia Panduwinata Lubis
4. Teuku Safriansyah
5. Endang Setya Nuryani
6. Denny Adin
c. Dapil III (Kep Seribu, Jakbar, Jakut) : 4 dari 8 (50%)
1. Surya Chandra Salim
3. Riezky Aprilia
5. Syafruddin BBM
8. Meliana Pancarani